JABAR EKSPRES – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa persoalan gangguan kesehatan mental di Kota Bandung tidak dapat ditangani oleh pemerintah semata. Ia menilai, masalah tersebut harus menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Menurut Farhan, meningkatnya kasus percobaan bunuh diri yang terjadi di Jembatan Pasupati menjadi sinyal serius bahwa tekanan psikologis yang dialami warga tidak bisa lagi dianggap sepele.
“Hampir setiap minggu ada laporan warga yang mencoba mengakhiri hidupnya di sana. Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa tingkat stres dan depresi di masyarakat perlu mendapatkan perhatian serius,” ujar Farhan, Selasa (10/3).
Baca Juga:Mendagri Pastikan Stok Kebutuhan Pokok Aman, Warga Diminta Tidak Panic Buying Jelang LebaranESDM Tahan Produksi Batu Bara Meski Harga Global Naik Akibat Konflik Timur Tengah
Sebagai langkah pencegahan, unsur Forkopimcam Bandung Wetan kini rutin melakukan patroli harian di sekitar kawasan jembatan tersebut. Meski demikian, Farhan menilai patroli hanya bersifat langkah darurat dan tidak bisa dijadikan solusi utama dalam mengatasi persoalan kesehatan mental.
Ia mengingatkan, risiko tetap bisa terjadi apabila pengawasan di lapangan tidak maksimal.
“Patroli tentu membantu, tetapi itu hanya tindakan sementara. Kalau sampai pengawasan meleset dan ada warga yang benar-benar melompat, risikonya sangat besar,” katanya.
Farhan menilai perlu ada upaya yang lebih komprehensif, mulai dari peningkatan layanan konseling, penguatan peran keluarga, hingga keterlibatan komunitas untuk memberikan dukungan kepada warga yang mengalami tekanan psikologis.
Sementara itu, akademisi psikologi Billy Martasandy menilai fenomena percobaan bunuh diri di ruang publik seperti Jembatan Pasupati menunjukkan adanya persoalan kesehatan mental yang belum tertangani secara sistematis.
Menurut Billy, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan patroli atau pengawasan fisik di lokasi rawan.
“Langkah preventif harus dimulai dari hulu. Pemerintah perlu memperkuat sistem deteksi dini terhadap warga yang mengalami tekanan psikologis berat, termasuk memperluas akses layanan konseling dan edukasi kesehatan mental di masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga:Program 3 Juta Rumah Dinilai Bisa Dongkrak Ekonomi NasionalKopi Good Day DBL Camp 2026 Digelar di Jakarta, 260 Student Athlete Berebut Tiket ke Amerika Serikat
Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran publik agar masyarakat lebih peka terhadap kondisi orang di sekitarnya.
“Sering kali orang yang mengalami depresi berat tidak terlihat secara kasat mata. Karena itu, lingkungan sosial, keluarga, hingga komunitas harus menjadi jaringan dukungan pertama agar seseorang tidak merasa sendirian menghadapi masalahnya,” kata Billy.
