JABAR EKSPRES – Ketegangan di Timur Tengah semakin meruncing setelah kelompok Houthi di Yaman secara terbuka menyatakan keberpihakannya kepada Iran dalam perseteruan melawan Amerika Serikat dan Israel.
Pemimpin tertinggi Houthi, Abdulmalik al-Houthi, menegaskan bahwa pasukannya berada dalam posisi siaga penuh untuk melakukan intervensi militer jika situasi terus memburuk.
Melansir laporan dari laman Xinhua News, pernyataan keras ini disampaikan dalam pidato televisi melalui saluran Al-Masirah TV pada Kamis, 5 Maret 2026.
Baca Juga:Biaya Perang AS-Israel Lawan Iran Tembus Rp58 Triliun Hanya dalam 100 Jam Pertama321 Sambungan Listrik Gratis PLN UID Jawa Barat Terangi Ramadan, Wujud Kepedulian untuk Warga dan Rumah Ibadah
Abdulmalik memandang konflik yang menimpa Iran bukan sekadar urusan satu negara, melainkan perjuangan kolektif bagi seluruh bangsa.
“Ketika perkembangan (situasi) mengharuskan, tangan kami siap menarik pelatuk kapan saja,” ujar Abdulmalik dalam pidatonya.
Tudingan terhadap Israel dan Persiapan “Musuh”
Abdulmalik melontarkan tuduhan serius bahwa Israel beserta aliansinya tengah mencoba menciptakan kondisi kekacauan di Iran.
Ia menilai ada upaya sistematis untuk memulai peperangan terbuka tanpa batasan hukum internasional demi menekan masyarakat Iran.
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa pihak lawan saat ini sedang menyusun daftar target serangan, menghimpun pendanaan dari beberapa negara Arab, serta menimbun logistik persenjataan sebelum meluncurkan serangan di waktu yang dianggap tepat.
Sebagai bentuk solidaritas, ia menginstruksikan para pengikutnya untuk turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa besar-besaran pada Jumat, 6 Maret 2026.
Aksi ini dimaksudkan untuk memberikan sinyal kuat kepada dunia internasional mengenai dukungan rakyat Yaman terhadap stabilitas Iran di tengah momen yang sangat sensitif ini.
Upaya PBB Meredam Eskalasi
Baca Juga:Sosok Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei yang Resmi Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran yang BaruTabel Angsuran KUR BRI 2026 dengan Plafon hingga Rp100 Juta, Bisa Bikin Usaha Kembali Lancar
Di sisi lain, dunia internasional terus berupaya mencegah Yaman agar tidak kembali jatuh ke dalam pusaran konflik yang lebih besar.
Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memberikan peringatan keras mengenai risiko terseretnya negara tersebut dalam konfrontasi regional.
“Tidak ada pihak yang berhak menyeret negara itu ke dalam konflik yang lebih luas yang akan membawa lebih banyak penderitaan bagi masyarakat Yaman,” tutur Grundberg.
Senada dengan PBB, pemerintah Yaman yang diakui secara sah oleh internasional juga memberikan peringatan kepada kelompok Houthi.
Mereka mendesak agar Houthi tidak melakukan tindakan militer yang membahayakan kedaulatan negara demi kepentingan agenda pihak luar.*
