JABAR EKSPRES – Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa membantah laporan yang dimuat oleh Bloomberg terkait dugaan menipisnya kemampuan pertahanan udara negara tersebut setelah menghadapi serangan dari Iran.
Dalam pernyataan resminya, kementerian menegaskan penolakan terhadap apa yang disebut sebagai klaim keliru dan menyesatkan mengenai kapasitas pertahanan canggih UEA.
Sebelumnya, Bloomberg mengutip sejumlah sumber yang menyebut bahwa UEA meminta dukungan sekutu untuk memasok rudal jarak menengah guna memperkuat sistem pertahanan udaranya.
Baca Juga:Fakta Menarik Gerhana Bulan Total: Fenomena Langit Langka yang MemukauIndonesia Tawarkan Mediasi Konflik Iran-AS-Israel, Sugiono Tekankan Jalur Diplomasi
Sementara itu, Qatar dilaporkan juga mencari bantuan dalam menghadapi ancaman drone. Laporan tersebut bahkan mengklaim bahwa stok rudal Patriot milik Qatar hanya mampu bertahan sekitar empat hari jika digunakan dengan tingkat intensitas saat ini.
Menanggapi hal itu, pihak UEA menyatakan bahwa negara tersebut memiliki sistem pertahanan udara yang terintegrasi, berlapis, dan beragam.
Sistem tersebut mencakup pertahanan jarak jauh, menengah, hingga pendek yang dirancang untuk menghadapi berbagai jenis ancaman udara secara efektif dan menyeluruh.
Kementerian juga menekankan bahwa UEA memiliki cadangan amunisi strategis dalam jumlah besar.
Hal ini, menurut mereka, menjamin kemampuan pencegatan dan respons yang berkelanjutan dalam jangka panjang, sekaligus menjaga kesiapan operasional penuh demi melindungi keamanan serta kedaulatan negara.
Situasi ini berkembang setelah pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan gabungan ke sejumlah titik di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan serta korban di kalangan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
