JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Bandung mulai mengambil langkah serius untuk menekan angka obesitas pada anak yang menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung tahun 2025, sekitar tiga persen dari total 90 ribu anak di Kota Bandung tercatat masuk kategori obesitas. Artinya, kurang lebih 2.700 anak menghadapi risiko kesehatan akibat berat badan berlebih.
Angka tersebut memang terlihat kecil secara persentase, namun Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menilai pertumbuhannya menjadi alarm penting yang tidak bisa diabaikan. Terlebih, obesitas pada anak bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan berkaitan erat dengan ancaman penyakit serius baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Baca Juga:Bahlil Tegaskan Impor Energi dari AS hanya Pengalihan Pemasok, Bukan Penambahan VolumeJaga Daya Beli Masyarakat, Dirut Bulog Lakukan Pengawasan Rutin Harga Pangan Selama Ramadan
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa anak-anak yang mengalami obesitas sejak dini berisiko lebih tinggi menderita berbagai penyakit kronis. Di antaranya diabetes tipe 2, gangguan jantung seperti hipertensi dan kolesterol tinggi, masalah pernapasan seperti sleep apnea, hingga gangguan pada tulang dan sendi.
“Walaupun secara persentase belum besar, pertumbuhannya positif. Jumlah anak SD sampai SMP yang masuk kategori gemuk dan obesitas itu naik. Ini yang harus kita cegah bersama,” ujar Farhan, Senin (2/3).
Pemkot Bandung juga menyoroti tingginya konsumsi minuman berpemanis di masyarakat. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Bandung menempati urutan pertama dalam konsumsi minuman teh kemasan dan minuman bersoda berkarbonasi (CO2). Tercatat angka konsumsi mencapai 0,54 persen dalam takaran 250 mililiter per kapita per pekan.
Jika dihitung, rata-rata setiap warga Kota Bandung mengonsumsi sekitar 135 mililiter minuman berpemanis setiap pekan. Selain teh kemasan dan minuman bersoda, warga juga dikenal gemar mengonsumsi es krim, sari buah dalam kemasan, hingga minuman berenergi yang umumnya memiliki kandungan gula cukup tinggi.
Menurut Farhan, tantangan terbesar dalam mengendalikan konsumsi tersebut adalah rasa. Kandungan gula, garam, dan lemak memang memberikan sensasi nikmat yang membuat anak-anak sulit menolak. Namun di balik kenikmatan itu, tersimpan risiko kesehatan yang tidak ringan.
“Kadang anak kecil yang gembul dianggap menggemaskan. Padahal, itu bisa menjadi tanda bahaya. Kalau tidak dikendalikan sejak dini, dampaknya bisa panjang,” tegasnya.
