JABAR EKSPRES – Laga panas akan tersaji di Gelora Bung Tomo, Senin (2/3), saat Persib Bandung menantang Persebaya Surabaya dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026. Bukan sekadar duel klasik dua tim besar, partai ini menjelma menjadi ujian konsistensi bagi Maung Bandung yang tengah memburu stabilitas performa di papan atas.
Atmosfer GBT tak pernah ramah bagi tim tamu. Riuh ribuan Bonek kerap menjadi energi tambahan bagi Bajul Ijo sekaligus tekanan mental bagi lawan.
Persib tentu paham betul bagaimana panasnya laga di Surabaya. Musim lalu menjadi pengingat pahit: mereka dipermalukan 4-1, hasil yang masih membekas di benak pemain dan bobotoh.
Baca Juga:Persebaya vs Persib: Momentum Perlebar Jarak dengan PersijaBojan Hodak Beri Kabar Baik Jelang Persib Lawan Persebaya
Datang dengan bekal performa yang relatif stabil di awal musim, Persib membawa misi lebih dari sekadar mencuri poin. Konsistensi menjadi kata kunci. Dalam kompetisi panjang seperti BRI Super League, tim juara bukan hanya yang mampu menang besar, tetapi yang bisa menjaga level permainan di laga-laga berat.
Pelatih Persib, Bojan Hodak menekankan pentingnya disiplin transisi dan ketenangan menghadapi tekanan tribun. Kekalahan telak musim lalu disebut menjadi bahan evaluasi utama, khususnya dalam mengantisipasi serangan cepat Persebaya yang efektif memanfaatkan lebar lapangan dan agresivitas lini depan.
“Kita tau Persebaya tim bagus, dan laga ini akan berjalan sulit bagi kami,” kata Bojan.
Di sisi lain, Persebaya tak ingin kehilangan momentum di kandang sendiri. Bermain di depan publik Surabaya selalu memberi dorongan emosional. Mereka paham, menjegal Persib bukan hanya soal tiga poin, tapi juga pesan tegas bahwa GBT tetap menjadi benteng angker.
Skor 4-1 musim lalu bukan sekadar angka. Itu adalah luka harga diri bagi Persib. Para pemain yang masih tersisa dari skuad musim lalu tentu menyimpan motivasi tambahan.
Duel ini berpotensi berlangsung terbuka, dua tim sama-sama memiliki lini serang yang produktif dan tak ragu bermain agresif.
Konsistensi Persib akan diuji dari berbagai aspek, kedalaman skuad, respons terhadap tekanan, hingga kecerdikan membaca ritme pertandingan. Jika mampu meredam agresivitas tuan rumah dan menjaga fokus sepanjang 90 menit, Maung Bandung berpeluang membuktikan bahwa mereka telah belajar dari masa lalu.
