Pesanan Al-Qur’an Braille di Wyata Guna Turun 50 Persen 

Pekerja mengoperasikan mesin cetak lembar Al Quran Braille di Yayasan Penyantun Wyata Guna Bandung, Rabu (25/
Pekerja mengoperasikan mesin cetak lembar Al Quran Braille di Yayasan Penyantun Wyata Guna Bandung, Rabu (25/2). Produksi Al Quran Braille pada bulan ramadan ini memproduksi kurang dari 100 set atau mengalami penurunan sebanyak 50 persen dibandingkan tahun 2025. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ramadan tahun ini tak seramai biasanya di ruang produksi Yayasan Penyantun Wyata Guna, Bandung. Lembaran-lembaran kertas bertulisan timbul tetap keluar dari mesin tua Braille Press, namun jumlahnya tak lagi sebanyak tahun lalu.

Hingga dua bulan pertama tahun ini, pesanan Al-Qur’an Braille masih di bawah 100 set, merosot lebih dari 50 persen dibanding 2025 yang mencapai 300 sampai 500 set per tahun.

Penurunan itu terasa ganjil karena bahkan pada masa pandemi Covid-19 permintaan masih relatif stabil. Kepala Sekretariat yayasan, H. Ayi Ahmad Hidayat, menilai tekanan ekonomi dan berbagai bencana di sejumlah daerah membuat prioritas donasi bergeser.

Baca Juga:BULOG Bandung Percepat Serapan Gabah Petani di SumedangKehangatan Bernuansa Heritage dalam Momen Berbuka Puasa “A Wishful Ramadan” ala de Braga by ARTOTEL

“Tahun ini agak berbeda. Bahkan sejak zaman Covid pun masih banyak yang mencari Al-Qur’an Braille untuk teman-teman tunanetra,” ujar Ayi kepada Jabar Ekspres, beberapa waktu lalu.

“Namun sekarang kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Ditambah lagi berbagai musibah seperti banjir dan longsor, terutama di Aceh dan wilayah Sumatera,” sambungnya.

Menurut dia, Al-Qur’an Braille lebih banyak dibeli donatur ketimbang tunanetra secara langsung. Dengan harga sekitar Rp1,3 juta tanpa terjemah dan Rp2 juta dengan terjemah, mushaf itu sulit dijangkau di tengah kebutuhan hidup yang meningkat.

Banyak tunanetra memilih memenuhi kebutuhan pokok ketimbang membeli mushaf. Ayi menyebut kondisi itu tak bisa disalahkan karena situasi ekonomi memang berat.

Dampaknya tak hanya terasa pada penjualan mushaf. Sejumlah tunanetra yang sebelumnya telah dibekali keterampilan kini kembali mengamen atau berdagang kecil-kecilan akibat sepinya pekerjaan.

Di tengah situasi tersebut, produksi tetap bertumpu pada mesin Braille Press bantuan Helen Keller International yang diterima pada 1952 pada masa Presiden Soekarno. Mesin produksi Thompson itu diduga menjadi satu-satunya yang masih aktif di Indonesia.

Kapasitas cetaknya kini dibatasi sekitar 5.000-8.000 lembar per hari agar lebih awet, sebab perbaikannya dilakukan manual dan menuntut presisi tinggi. Kerusakan kecil saja bisa menghentikan produksi hingga dua pekan.

Baca Juga:Ada 250 Kursi Mudik Gratis Pemkot Bandung, Siap Antar Warga Pulang ke Kota-kota Ini!MTP dan Kodim 0618/Kota Bandung Gelar Pangan Murah untuk Bantu Masyarakat Memenuhi Kebutuhan Pokok

Selain pasar domestik, Al-Qur’an Braille dari Wyata Guna pernah dikirim ke Malaysia, Thailand, Singapura, hingga Kuwait. Namun jumlahnya tidak besar dan tidak rutin. Ke depan, Ayi berharap dukungan tidak hanya berhenti pada pembelian mushaf, melainkan juga pembinaan berkelanjutan bagi tunanetra serta keberlanjutan anggaran dari pemerintah.

0 Komentar