JABAR EKSPRES – Dugaan keracunan massal usai mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyoroti persoalan keamanan pangan dalam program pemerintah tersebut. Insiden yang terjadi pada Rabu (25/2/2026) itu melibatkan siswa sekolah serta ibu-ibu posyandu di Kota Cimahi, puluhan korban itu dilarikan ke beberapa rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Merespons situasi tersebut, SMPN 6 Cimahi menggelar rapat bersama orang tua siswa lintas jenjang kelas. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Alip Winarta, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut diikuti perwakilan orang tua kelas VII, VIII, dan IX, yang dibagi ke dalam tiga sesi terpisah.
“Intinya, ingin mendapatkan respons dari orang tua berkenaan dengan permasalahan kemarin, gejala terjadinya keracunan MBG ya. Dan akhirnya orang tua itu kami undang perwakilannya dengan tiga sesi, di mana kita minta pendapat dari orang tua tindak lanjut dengan penanganan itu,” ujar Alip saat diwawancarai Jabar Ekspres di sekolah, Jl. Gatot Subroto No.19, Karangmekar, Cimahi Tengah, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga:Onigiri MBG Diduga Picu Keracunan Massal di Cimahi, Ini Kata BGN!Siswa SMPN 6 Cimai Diduga Keracunan MBG Menu Onigiri, Begini Respons Orang Tua Siswa
Berdasarkan data pihak sekolah hingga Jumat (27/2/2026), sebanyak 34 orang terdampak, terdiri dari siswa, guru, tenaga pendidik, hingga staf sekolah. Dari jumlah tersebut, tujuh orang dilaporkan masih menjalani perawatan di rumah sakit dan klinik.
Dari forum tersebut, kata Alip, muncul desakan kuat agar distribusi MBG dari dapur SPPG Karangmekar 002 dihentikan dan dievaluasi secara menyeluruh.
“Kalau hanya pertanyaan secara lisan mungkin tidak akan bisa menjadikan kekuatan, makanya tadi orang tua membuat pernyataan secara tertulis yang intinya adalah di antaranya minta diberhentikan,” tegasnya.
Selain penghentian, orang tua juga meminta adanya pengalihan distribusi MBG ke dapur SPPG lain yang dinilai mampu menjamin kualitas layanan kesehatan lebih baik.
“Selain diberhentikan, satu halnya adalah untuk meminta dialihkan kepada SPPG yang memang bisa melayani lebih baik gitu, itu kesimpulannya,” lanjut Alip.
Meski demikian, para orang tua tidak menolak keberlanjutan program MBG secara keseluruhan. Mereka berharap program tetap berjalan dengan catatan pengawasan kesehatan diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Belajar dari insiden tersebut, Alip menuturkan bahwa orang tua meminta adanya pengawasan ketat pada seluruh tahapan penyelenggaraan MBG.
