Menu MBG Diduga Picu Keracunan Sejumlah Siswa SD-SMP di Cimahi

Belasan Siswa dan Siswi SD-SMP yang keracunan MBG dilarikan ke RSUD Cibabat Cimahi (mong)
Belasan Siswa dan Siswi SD-SMP yang keracunan MBG dilarikan ke RSUD Cibabat Cimahi/ Foto: Firman Satria/Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi instrumen peningkatan gizi anak sekolah justru memicu kekhawatiran di Kota Cimahi. Belasan siswa tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) harus mendapatkan perawatan medis setelah mengalami gejala yang mengarah pada dugaan keracunan makanan.

Insiden tersebut terjadi pada Rabu (25/2/2026) sore. Para siswa dilaporkan mulai mengeluhkan keluhan fisik khas gangguan pencernaan sekitar pukul 17.30 WIB, beberapa jam setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah masing-masing.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati membenarkan adanya laporan tersebut.

Berdasarkan data awal yang diterima pihaknya, sejumlah siswa langsung dibawa ke beberapa rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga:Ini Pesan H. Cucun Dalam Reses Anggota DPRD Fraksi PKBEmosi Memuncak di GBLA, Andrew Jung Tegaskan Niatnya Redam Situasi Demi Persib

“Ya, betul, ada dugaan (keracunan MBG) ya beberapa anak masuk ke RSUD Cibabat, RS Mitra Kasih, dan RS Dustira. Semua pasien sudah tertangani,” kata Mulyati saat ditemui di RSUD Cibabat, Rabu (25/2/2026).

Dinas Kesehatan Kota Cimahi mencatat, dari laporan sementara, sebanyak 11 siswa dirawat di RSUD Cibabat, dua siswa lainnya dibawa ke RS Mitra Kasih, sementara satu siswa dirujuk ke RS Dustira.

Selain itu, terdapat pula sejumlah anak yang sempat menjalani pemeriksaan di klinik kesehatan. Setelah kondisinya dinilai stabil dan membaik, mereka diizinkan pulang.

“Informasi yang saya dapatkan juga ada yang masuk ke klinik dan sudah dinyatakan membaik lalu diizinkan pulang,” ungkap Mulyati.

Hingga Rabu malam, seluruh pasien yang dirawat di rumah sakit dilaporkan dalam kondisi tertangani dan tidak berada dalam situasi yang mengancam nyawa. Meski demikian, Dinkes Cimahi menegaskan tetap siaga terhadap kemungkinan munculnya korban tambahan.

Mulyati mengungkapkan, menu MBG yang diduga menjadi pemicu gejala tersebut tidak hanya didistribusikan ke siswa SD dan SMP, tetapi juga disalurkan oleh Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) ke sejumlah Posyandu dan taman kanak-kanak (TK).

“Dibagi dari SPPG itu ada yang untuk Posyandu, SD, SMP, TK juga. Jadi ada yang dimakan setelah buka puasa dan untuk anak-anak kecil barangkali ada yang dimakan di posisi siang jam 11 atau jam 12,” jelas Mulyati.

0 Komentar