Dari Kutukan Menuju Harapan: Saatnya Akhiri Stigma Kusta

Stigma Kusta
Hari Kusta Sedunia. (FOTO ILUSTRASI)
0 Komentar

Stigma ini berlapis: stigma sosial dari masyarakat dan keluarga, self-stigma yang membuat penderita merasa rendah diri, serta stigma dari tenaga kesehatan yang kadang masih ragu menangani pasien kusta. Dampaknya tragis: penularan berlanjut, kasus baru muncul, dan lingkaran setan tak putus.

Pemerintah Indonesia, lanjut Neti, telah menetapkan target “3 Zero” pada 2030. Yakni Zero New Cases (nol kasus baru), Zero Disabilities (nol kecacatan), dan Zero Stigma (nol stigma). Strategi nasional mencakup lima pilar: deteksi dini dan pengobatan MDT cepat, pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) di daerah endemis, surveilans aktif, promosi kesehatan untuk kurangi stigma, serta kolaborasi lintas sektor.

Pada 2025, Kementerian Kesehatan memperluas target eliminasi dari 42 menjadi 111 kabupaten/kota, memulai skrining massal di daerah prioritas, dan memperkuat ketersediaan MDT serta riset vaksin kusta internasional. Di Jawa Barat, perawat komunitas bergerak di garis depan. Organisasi seperti PPNI dan Unpad melakukan penelitian berbasis komunitas untuk mengidentifikasi faktor pemicu stigma serta intervensi efektif.

Baca Juga:Gotong Royong Ramadan: Jalan 1.500 Meter di Cipelah Dikejar Tuntas Perjanjian Dagang Indonesia–AS: Antara Peluang Ekonomi dan Ancaman Kedaulatan

Salah satunya, studi mahasiswa Unpad yang menemukan bahwa pendekatan peer support dan edukasi langsung ke masyarakat dapat menurunkan stigma secara signifikan.

Peran Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) atau penyintas semakin menonjol. Melalui kelompok dukungan sebaya, mereka berbagi pengalaman hidup, menunjukkan bahwa kusta bisa disembuhkan, dan mendorong pemeriksaan dini.

“Dukungan dari sesama penyintas membuat penderita berani keluar dari zona malu. Mereka melihat bukti nyata: orang yang dulu dicap ‘kusta’ kini hidup normal, bekerja, dan diterima masyarakat,” terang Neti. “Peran masyarakat sangat krusial jika kita menyambut, bukan menjauh, penularan bisa diputus,” imbuhnya.

Bagi mahasiswa keperawatan, perawat muda, dan seluruh masyarakat Jawa Barat, Neti menyampaikan pesan mendalam. “Jadilah lebih peduli pada penyakit terabaikan ini. Kurangi stigma sejak dari bangku kuliah. Perawat memiliki peran strategis. Kita bukan hanya merawat tubuh, tapi juga menyembuhkan luka batin. Motivasi pasien untuk patuh berobat, dampingi mereka menjalani hidup sehat, dan jadilah jembatan antara penderita dan masyarakat yang inklusif,” pesannya.

0 Komentar