Neti menegaskan bahwa kusta adalah neglected tropical disease yang membutuhkan pendekatan komprehensif. “Kusta bukan sekadar penyakit kulit. Ini penyakit yang menyerang saraf perifer, menyebabkan hilangnya sensasi, dan jika terlambat ditangani, berujung pada kecacatan permanen,” rinci Neti.
Sebagai perawat komunitas, ia menekankan tiga tingkat pencegahan sebagai pondasi utama. Yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer dimulai dari edukasi masyarakat tentang cara penularan kusta-melalui kontak kulit lama dengan penderita yang belum diobati. Serta upaya meningkatkan daya tahan tubuh melalui gizi baik dan lingkungan sehat.
Yang tak kalah penting, menurut Neti, adalah meruntuhkan tembok stigma. “Stigma sosial membuat masyarakat menjauhi penderita, bahkan keluarga sendiri kadang mengucilkan. Ini yang harus kita ubah melalui pendidikan kesehatan berkelanjutan,” katanya.
Baca Juga:Gotong Royong Ramadan: Jalan 1.500 Meter di Cipelah Dikejar Tuntas Perjanjian Dagang Indonesia–AS: Antara Peluang Ekonomi dan Ancaman Kedaulatan
Pencegahan sekunder berfokus pada deteksi dini. Menurut Neti, gejala awal sering luput dari perhatian, seperti bercak kulit yang lebih cerah, lebih gelap, atau kemerahan dibanding kulit sekitar, disertai mati rasa pada sentuhan, panas, dingin, atau nyeri. “Banyak pasien datang sudah dengan cacat karena mengabaikan gejala ini. Jika ditemukan sedini mungkin, pengobatan Multi-Drug Therapy (MDT)-kombinasi antibiotik rifampisin, dapson, dan klofazimin-selama 6 bulan untuk tipe pausibasiler atau 12 bulan untuk multibasiler, bisa menyembuhkan total tanpa cacat,” jelas Neti.
Neti menegaskan, perawat di puskesmas berperan vital. Pasalnya, perawat tersebut dapat memantau kepatuhan minum obat, memeriksa status nutrisi, serta membangun sistem pendukung dari keluarga dan tetangga agar pasien tetap aktif, berolahraga ringan, dan menjaga perilaku hidup sehat.
Sementara pencegahan tersier ditujukan bagi mereka yang sudah cacat: rehabilitasi fisik seperti latihan tangan/kaki, penggunaan alas kaki khusus, dan perawatan luka, membantu penderita hidup optimal. “Kita ajarkan self-care: memeriksa kulit setiap hari, melindungi bagian mati rasa dari luka, dan menjaga kebersihan,” tambah Neti.
Dia pun menyebut stigma tetap menjadi musuh terberat. “Pasien merasa malu dan takut dikucilkan, sehingga menyembunyikan penyakitnya. Akibatnya, mereka baru berobat saat sudah mengalami kerusakan saraf lanjut, kehilangan jari, tangan, atau bahkan penglihatan,” ungkap Neti.
