Selain menurunkan kenyamanan berkendara, kondisi tersebut juga berdampak pada keselamatan dan menambah beban biaya perawatan kendaraan masyarakat. Tak jarang, proyek perbaikan jalan juga memicu kemacetan karena pengerjaan yang dilakukan bersamaan tanpa koordinasi matang.
Lonjakan anggaran menjadi peluang sekaligus ujian. Jika tidak diiringi perencanaan terintegrasi dan pengawasan ketat, tambahan Rp170 miliar berisiko hanya memperbesar skala pekerjaan tanpa meningkatkan kualitas.
Penguatan koordinasi lintas dinas, penyusunan jadwal terpadu proyek galian dan pengaspalan, serta transparansi progres pekerjaan dinilai menjadi kunci agar perbaikan jalan tidak lagi berulang di titik yang sama.
Baca Juga:Pengamat Soroti Kerusakan Jalan Kota Bandung Akibat Proyek Ducting Kabel UdaraBRT Bandung Raya: Solusi Tekan Kendaraan Pribadi atau Justru Tambah Beban Jalan?
Dengan anggaran besar di tangan, publik kini menanti apakah 2026 akan menjadi titik balik pembenahan infrastruktur jalan di Kota Bandung, atau sekadar pengulangan pola lama tambal dan bongkar yang memboroskan anggaran. (Dam)
