JABAR EKSPRES – Rencana pembongkaran Teras Cihampelas kembali menjadi perbincangan publik. Kebijakan tersebut dinilai tidak hanya menyangkut penataan ruang kota, tetapi juga membawa implikasi luas terhadap ekosistem ekonomi perkotaan.
Pengamat ekonomi UPI, Adib Sultan, menilai pembongkaran fasilitas publik tersebut berpotensi menimbulkan dampak berlapis, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Menurut Adib, Teras Cihampelas sejak awal dirancang sebagai ruang publik sekaligus penggerak ekonomi berbasis pariwisata dan UMKM. Namun dalam perkembangannya, fungsi tersebut mengalami penurunan akibat rendahnya tingkat kunjungan, persoalan pengelolaan, serta menurunnya kualitas fasilitas.
Baca Juga:PA Kota Cimahi Bahas Kesejahteraan Yudisial dalam Diskusi Internasional BPHPI–FCFCOARayakan Imlek 2026 di Bandung, Ini Promo Dinner di Hotel Kota Bandung
“Jika dilihat dari perspektif ekonomi perkotaan, keberadaan Teras Cihampelas dulu menjadi katalis aktivitas ekonomi kawasan. Ketika fasilitas itu tidak lagi optimal dan kemudian dibongkar, maka akan muncul efek domino terhadap pelaku usaha, arus wisata, hingga nilai ekonomi kawasan sekitarnya,” ujar Adib.
Secara historis, Teras Cihampelas merupakan jalur pedestrian berkonsep skywalk yang sempat diproyeksikan sebagai magnet wisata urban Kota Bandung. Namun seiring waktu, kawasan tersebut dilaporkan mengalami penurunan aktivitas, banyak kios tutup, serta minim pengunjung.
Adib menilai sektor yang paling terdampak secara langsung adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Saat ini pemerintah telah menyiapkan relokasi pedagang sebagai langkah mitigasi, namun menurutnya proses adaptasi tetap akan menimbulkan tekanan ekonomi sementara.
Pemerintah Kota Bandung sendiri telah mengarahkan UMKM yang sebelumnya berjualan di bagian atas Teras Cihampelas untuk berpindah ke area bawah dengan lokasi khusus yang disiapkan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan.
“Relokasi UMKM memang solusi jangka pendek, tetapi dari sisi ekonomi perilaku konsumen, lokasi usaha sangat menentukan. Pedagang biasanya membutuhkan waktu untuk membangun ulang pasar, pelanggan, serta jaringan distribusi,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan lokasi usaha berpotensi menurunkan omzet sementara, meningkatkan biaya adaptasi, serta menimbulkan risiko terjadinya exit market bagi pelaku usaha kecil yang tidak memiliki ketahanan modal.
Lebih jauh, Adib menyoroti pembongkaran Teras Cihampelas dapat memengaruhi positioning pariwisata Kota Bandung. Ia menilai, setiap perubahan pada infrastruktur wisata harus disertai dengan strategi pengganti yang jelas agar tidak menciptakan kekosongan destinasi.
