Teras Cihampelas sebelumnya dikenal sebagai inovasi infrastruktur sekaligus ikon wisata urban yang menarik wisatawan domestik.
“Dalam ekonomi pariwisata, konsistensi destinasi sangat penting. Jika satu ikon hilang tanpa pengganti yang memiliki daya tarik setara, maka lama tinggal wisatawan dan tingkat belanja wisata bisa menurun,” katanya.
Adib menilai, pembongkaran dapat menjadi peluang jika pemerintah mampu menggantinya dengan konsep kawasan baru yang lebih relevan dengan tren wisata modern, seperti ruang publik berbasis kuliner, ekonomi kreatif, atau ruang interaksi komunitas.
Baca Juga:PA Kota Cimahi Bahas Kesejahteraan Yudisial dalam Diskusi Internasional BPHPI–FCFCOARayakan Imlek 2026 di Bandung, Ini Promo Dinner di Hotel Kota Bandung
Selain dampak mikro, Adib menilai pembongkaran Teras Cihampelas juga berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas perencanaan kota. Teras Cihampelas sendiri dibangun dengan anggaran sekitar Rp74 miliar dan pernah dipromosikan sebagai ikon tata kota Bandung.
“Ketika sebuah proyek publik bernilai besar tidak berkelanjutan, investor biasanya akan melihat bagaimana kualitas perencanaan, evaluasi kebijakan, dan kesinambungan pembangunan kota. Ini dapat mempengaruhi kepercayaan investasi, khususnya di sektor properti dan pariwisata,” ujarnya.
Namun Adib menilai dampak tersebut dapat diminimalisir jika pembongkaran disertai perencanaan tata ruang baru yang lebih matang, berbasis studi kelayakan ekonomi, serta melibatkan pelaku usaha lokal. (Dam)
