Tragedi Anak di Ngada Jadi Alarm Negara Lindungi Keluarga Miskin

Tragedi Anak di Ngada Jadi Alarm Negara Lindungi Keluarga Miskin
Ilustrasi: Pondok kampung rentan. Dok Pixabay
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Peristiwa meninggalnya seorang anak usia sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat perlindungan sosial terhadap keluarga miskin dan rentan.

Kementerian Sosial (Kemensos) menilai tragedi tersebut sebagai peringatan serius bagi seluruh pemangku kebijakan, khususnya pemerintah daerah, agar lebih peka terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat tidak mampu.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan pemerintah daerah memegang peran strategis dalam mencegah terulangnya peristiwa serupa.

Baca Juga:Di Tengah Tantangan Global, Industri Pengolahan Jadi Tulang Punggung Perekonomian Indonesia di 2025Bangkitkan Ekonomi, Pemerintah Siapkan Anggaran 6 Miliar Dollar untuk Industri Padat Karya 

“Pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial, harus aktif melakukan pendataan terhadap warga yang kurang mampu,” ujar Agus saat ditemui di posko pengungsian longsor Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat.

Menurutnya, pendataan sosial yang akurat dan dilakukan secara proaktif menjadi kunci agar bantuan pemerintah dapat tepat sasaran.

“Dengan data yang valid, negara bisa hadir memberikan intervensi sesuai kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Agus menjelaskan, seluruh kebijakan dan bantuan sosial pemerintah bersumber dari data yang dihimpun oleh pemerintah kabupaten dan kota. Karena itu, pembaruan dan ketepatan data menjadi faktor penting dalam upaya perlindungan kelompok rentan, terutama anak-anak.

“Intervensi pemerintah itu berbasis data dari daerah. Kalau datanya tidak akurat atau tidak diperbarui, bantuan juga tidak akan tepat sasaran,” katanya.

Khusus untuk wilayah NTT, Agus menyebut pemerintah pusat telah menyiapkan kebijakan strategis untuk menjawab persoalan kemiskinan struktural yang berdampak langsung pada akses pendidikan. Salah satu program yang disiapkan adalah Sekolah Rakyat.

“Program tersebut dirancang untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap dapat mengakses pendidikan tanpa terbebani biaya. Pemerintah berharap program ini mampu mencegah anak-anak putus sekolah akibat tekanan ekonomi keluarga,” katanya.

Baca Juga:Wamenaker Tekankan Budaya K3 sebagai Kunci Wujudkan Pekerjaan LayakOJK Soroti Risiko Digital dan Kripto, Perkuat Pengawasan Perbankan di Tengah Transformasi Global

Tragedi di Ngada melibatkan seorang anak berinisial YBR (10), warga Kecamatan Jerebuu, yang ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya meninggalkan sepucuk surat berisi pesan perpisahan kepada sang ibu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum kejadian YBR sempat meminta sejumlah uang untuk membeli perlengkapan sekolah, namun kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk memenuhinya.

0 Komentar