Usai Sepekan Mengungsi, Warga Pasirlangu Pulang dengan Keterbatasan Air

Warga Pasirlangu mengantre sembako sebelum dipulangkan dari posko pengungsian
Warga Pasirlangu mengantre sembako sebelum dipulangkan dari posko pengungsian. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pagi itu, antrean terbentuk di depan GOR Desa Pasirlangu. Di tangan warga, dus-dus sembako digenggam erat beras, minyak, dan mi instan bekal sederhana untuk dibawa pulang.

Setelah hampir sepekan tidur di atas tikar pengungsian, mereka bersiap kembali ke rumah masing-masing. Rumah yang masih berdiri, tetapi tanpa air mengalir.

GOR yang beberapa hari lalu dipenuhi suara anak-anak dan percakapan gelisah kini mulai lengang. Tikar digulung, selimut dilipat, kardus bantuan ditumpuk rapi di sudut ruangan. Satu per satu warga melangkah keluar, diantar petugas, membawa pulang sisa-sisa kehidupan yang coba dirangkai kembali.

Baca Juga:Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi WamenkeuLayvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling Menentukan

Bencana longsor memang tidak meratakan seluruh Pasirlangu. Banyak rumah tetap tegak. Namun air yang selama ini mengalir tanpa pernah diminta menghilang ditelan tanah dan batu. Mata air tertimbun, pipa rusak, dan kran-kran menjadi bisu.

“Alhamdulillah uih ka bumi, mudah-mudahan aya cai,” ujar seorang pria sambil menyandarkan sepeda motornya. Ia tersenyum tipis, seolah pulang adalah harapan yang harus diterima apa adanya.

Selama hampir sepekan, warga dari RW 10, RW 11, dan RW 12 berbagi ruang di aula desa dan GOR. Di aula desa, 57 kepala keluarga dengan total 131 jiwa bertahan. Sementara di GOR, 44 kepala keluarga lainnya sebayak 133 jiwa mengisi hari-hari dengan penantian yang sama.

Kini, sekitar tiga perempat dari mereka mulai dipulangkan, setelah kawasan tempat tinggalnya dinyatakan berada di zona kuning atau aman berdasarkan pemetaan Badan Geologi.

“Sekitar dua ratus orang sudah kembali ke rumah masing-masing,” kata Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis.

“Yang masih di posko adalah warga yang rumahnya masuk zona merah dan harus direlokasi,” tambahnya.

Tak ada perayaan dalam kepulangan itu. Warga melangkah pelan, menenteng sembako, berharap persediaan itu cukup hingga air kembali tersedia. Di rumah, mereka akan berhadapan dengan kran yang tak menetes dan ember yang harus diisi bergantian.

Baca Juga:Dion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib BandungDPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat Sasaran

Saat ini, satu titik sumur bor telah berdiri di RW 11. Airnya belum melimpah, namun cukup untuk mengisi jeriken dan ember warga. Pemerintah desa terus mengupayakan pembangunan titik-titik sumur lainnya, sembari memanfaatkan mata air yang tersisa dengan bantuan pompa mesin.

0 Komentar