2. Membaca Al-Qur’an
Sebagian ulama salaf, seperti Anas bin Malik, mengatakan kaum muslim banyak membaca Al-Qur’an ketika memasuki bulan Syaban. Mereka juga mengeluarkan zakat untuk orang miskin dan tidak mampu agar kuat berpuasa di bulan Ramadan.
3. Membaca Yasin
Membaca surah Yasin dengan niat memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, atau membaca semua Al-Quran tidaklah berdosa dan dilarang.
Sayyid Muhammad al-Maliki mengatakan, seseorang yang membaca surah Yasin atau surah lain dalam Al-Qur’an karena Allah SWT dan disertai dengan niat mencari keberkahan umur, keberkahan harta, keberkahan kesehatan, maka tidak ada dosa baginya.
Baca Juga:Puasa Berapa Hari lagi?, Ini 7 Tips Persiapan Ramadhan Agar Ibadah Makin LancarWD Opalp Exchange Mundur Lagi, Ini Alasan Mark Davis
Maka, membaca surah Yasin untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban diperbolehkan, asal tidak mengkhususkan untuk dibaca pada malam tersebut.
4. Memperbanyak Doa
Setelah selesai membaca surah Yasin, umat Islam dapat melanjutkannya dengan berdoa. Salah satu doa yang dipanjatkan pada malam Nisfu Syaban ada dalam kitab Maslakul Akhyar karya Syekh Sayyid Utsman bin Yahya, yang dinukil dari laman resmi MUI, berikut bacaan doa Nisfu Syaban:
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُومِيْنَ أَوْ مُقَتَرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقَّاوَتِيْ وَحِرْمَانِي وَافْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفِّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in’ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifin. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fii ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fii ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su’adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fii kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallahu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihi wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.
Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatat ku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufik untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitab-Mu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan sholawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, serta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
