JABAR EKSPRES – Ratusan ton ikan di keramba jaring apung (KJA) Waduk Saguling dan Waduk Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dilaporkan mati massal pada akhir Januari 2026.
Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat, total kematian ikan selama periode 24-27 Januari 2026 mencapai 121,8 ton. Peristiwa ini diduga dipicu fenomena umbalan akibat cuaca ekstrem yang menyebabkan penurunan kualitas air di perairan waduk.
Dispernakan mencatat, kematian ikan paling besar terjadi di Waduk Saguling dan tersebar di sejumlah wilayah perairan, antara lain Cililin, Cihampelas, Cipongkor, dan Saguling. Beberapa titik mencatat angka kematian tertinggi, yakni Blok Pakuwon mencapai 28 ton, Perlas 20 ton, serta Bojonglangkap 12,5 ton. Jenis ikan yang paling banyak mati adalah nila dan ikan mas milik pembudidaya keramba.
Baca Juga:Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi WamenkeuLayvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling Menentukan
Sementara itu, di Waduk Cirata, kematian ikan juga dilaporkan terjadi di sejumlah blok perairan seperti Cibungur, Citatah, Sangkali, Cibogo, Gandasoli, Cigandu, dan Cipanas. Namun, volume kematian ikan di setiap titik tersebut dilaporkan di bawah satu kuintal.
Kepala Dispernakan Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti, mengatakan kematian massal ikan terjadi hampir bersamaan di banyak blok keramba dan berkaitan erat dengan fenomena umbalan, yakni pembalikan massa air dari dasar waduk ke permukaan.
“Cuaca ekstrem beberapa hari terakhir memicu pembalikan massa air. Air dari dasar waduk naik ke permukaan membawa zat beracun serta menurunkan kadar oksigen terlarut, sehingga ikan tidak mampu bertahan,” kata Wiwin saat dikonfirmasi, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, peristiwa tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas budidaya ikan dan menjadi indikator bahwa daya dukung perairan waduk sedang mengalami tekanan.
Dispernakan sebelumnya telah mengeluarkan surat peringatan dini kepada para pembudidaya keramba terkait potensi kematian massal ikan di perairan umum. Imbauan tersebut mencakup pengurangan kepadatan tebar serta peningkatan pemantauan kualitas air, terutama saat cuaca ekstrem.
“Peringatan sudah kami sampaikan jauh hari. Kondisi cuaca, dinamika air, dan beban keramba harus menjadi perhatian. Jika daya dukung waduk terlampaui, risikonya kematian massal seperti ini sulit dihindari,” katanya.
