Sepak Bola, Lebih dari SekadarPermainan: Cermin Budaya dari Brasilhingga Indonesia

Kompetisi Sepak Bola Disabilitas Intelektual Asia Tenggara Dimulai di Bandung
Pemain disabilitas intelektual putra Thailand Sukollawat Khongphetsak (tengah) menguasai bola dibayangi pemain disabilitas intelektual putra Indonesia Luthfi Rahmat Jaya Aji Ma\'arif (kanan) pada babak pengelompokan Kompetisi Disabilitas Intelektual di Stadion Sidolig, Kota Bandung, Selasa (11/11). Special Olympics Southeast Asia menggelar kompetisi sepak bola tujuh pemain yang diikuti 132 atlet disabilitas intelektual dari enam negara Asia Tenggara. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Ditulis oleh Chessa At Thariq, Mahasiswi Magister IlmuKomunikasi Sekolah Pascasarjana USAHID

Bagaimana Brasil, Italia, Inggris, dan Indonesia Memaknainya

Di banyak tempat, sepak bola hanyalah hiburan akhir pekan—ditonton sekilas, dibahas sebentar, lalu dilupakan. Namun, di Brasil, Italia, Inggris, dan Indonesia, sepak bola jauhmelampaui itu. Ia menjadi bahasa identitas, ruang kolektifuntuk menumpahkan emosi, sekaligus arsip yang merekamperjalanan sosial sebuah bangsa.

Di negara-negara ini, sepak bola tak hanya dimainkan di stadion, melainkan hidup di lorong-lorong kota, diwariskan di meja makan, dan diperdebatkan di ruang publik. Ia hadirdalam lagu suporter, cerita keluarga, hingga ingatan kolektiftentang kemenangan dan kegagalan. Sepak bola menjadi caramasyarakat mengenali diri mereka sendiri—siapa mereka, dari mana asal-usulnya, dan nilai apa yang ingindipertahankan.

Baca Juga:Dari Seremoni ke Keberlanjutan: Menata Ulang Pengabdian Masyarakat Desaibis Bandung Pasteur Hadirkan “Ririungan Ramadhan”, Buka Puasa All You Can Eat dengan Live Music

Brasil memaknainya sebagai perayaan hidup—ruang di mana kegembiraan, kreativitas, dan harapan bertemu, bahkan di tengah ketimpangan sosial. Italia melihatnya sebagai strategi dan simbol identitas regional, di mana kecerdikan dan disiplinmencerminkan cara bertahan hidup. Inggris menjadikannyatradisi sosial yang rapi dan berakar kuat pada komunitas, sementara Indonesia merangkulnya sebagai ekspresi emosikolektif yang intens—tempat harapan, kebanggaan, dan solidaritas lintas generasi bersatu.

Cara keempat negara ini memaknai sepak bola menunjukkansatu hal penting: olahraga bukan sekadar soal menang-kalah. Ia bisa menjadi panggung politik, alat negosiasi identitas, dan medium ekspresi rasa memiliki. Di tangan masyarakatnya, sepak bola berubah menjadi lebih dari permainan—iamenyatu dalam cara hidup sehari-hari, sekaligus cerminbudaya sebuah bangsa.

Brasil: Sepak Bola sebagai Ekspresi Jiwa

Di Brasil, sepak bola bukanlah aktivitas terpisah darikehidupan sehari-hari. Ia mengalir di gang-gang sempit, pantai-pantai, lapangan tanah liat, hingga stadion raksasa. Anak-anak Brasil tumbuh dengan bola di kaki mereka—bukan semata karena mimpi menjadi pemain profesional, melainkan karena sepak bola merupakan cara paling alamiuntuk mengekspresikan diri.

Gaya bermain Brasil yang bebas, kreatif, dan penuhimprovisasi mencerminkan karakter sosial masyarakatnya. Jogo bonito bukan sekadar istilah teknis, melainkan filosofihidup: bermain dengan kegembiraan, keberanian, dan keindahan. Sepak bola menjadi ruang untuk menari, berimajinasi, dan merayakan hidup, bahkan ketika realitassosial kerap keras dan tak ramah.

0 Komentar