BANDUNG – Universitas Sangga Buana Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan (USB-YPKP) Bandung menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Menuju Indonesia 2045 Anak Muda Demokrasi dan Pertahanan Bangsa” di Gedung Serbaguna USB-YPKP Bandung, Kamis (201/2026).
Acara tersebut terselenggara dalam rangkaian Inaugurasi REVOSA 25 dengan menghadirkan empat narasumber terkemuka yang dikenal kritis. Mereka adalah Rocky Gerung (filsuf dan intelektual publik), Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo (mantan Panglima TNI), Refly Harun (pakar hukum tata negara), serta H. M. S. Kaban (tokoh politik dan mantan Menteri).
Rektor USB-YPKP, Dr. Didin Saepudin menegaskan bahwa kuliah umum yang diselenggarakan dalam rangkaian inaugurasi mahasiswa baru merupakan komponen esensial untuk membentuk karakter intelektual dan nasionalisme generasi muda.
Baca Juga:Bupati Cirebon Digugat Utang Rp40 Miliar Divonis 7 Tahun, LBH Golkar Bandung Puji Hukuman Pelaku Cabul Anak
Didin menjelaskan bahwa inaugurasi tahunan ini dirancang sebagai satu kesatuan yang terintegrasi dalam tiga pilar utama. Pertama, pelepasan simbolis jazz alma mater setelah satu semester pemantauan oleh senior. Tradisi ini bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap almamater tanpa membatasi ruang motivasi dan kebebasan berpikir mahasiswa.
Kedua, muatan akademik melalui kuliah umum menjadi inti penguatan kemampuan berpikir kritis. “Kami secara sengaja menghadirkan narasumber yang mampu membangkitkan sikap kritis sekaligus rasa nasionalisme dan kebangsaan. Mahasiswa diajak memahami pandangan pakar, kemudian mengkaji ulang secara mendalam agar terbentuk pemikiran kritis yang matang,” ujarnya.
Menurut Didin, penguatan tersebut sangat strategis mengingat mahasiswa merupakan calon pemimpin bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Ia mengamati bahwa sikap kritis mahasiswa USB-YPKP telah mulai terlihat dalam diskusi kelas sehari-hari maupun kegiatan ilmiah lainnya.
“Mereka tidak hanya menguasai hard skill bidang studinya, tetapi juga mampu membaca situasi global misalnya dampak kebijakan Presiden Amerika Serikat dan menunjukkan kepedulian terhadap isu lingkungan serta masyarakat,” tambahnya.
Didin menekankan pentingnya menghindari pola pikir miopik yang terbatas pada ranah teknis semata. “Mahasiswa harus memiliki rasa peduli yang luas terhadap lingkungan sosial, kebangsaan, dan dampak keberadaan mereka bagi masyarakat sesuai arahan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk menciptakan lulusan yang benar-benar berdampak,” katanya.
