Bandung Ramai Wisatawan, Pengusaha Lokal Masih Jadi Penonton

Ilustrasi: Wisatawan mengunjugi wisata edukasi angklung di Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspr
Ilustrasi: Wisatawan mengunjugi wisata edukasi angklung di Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Keberhasilan Kota Bandung menarik hampir 20 juta wisatawan sepanjang 2025 patut diapresiasi. Seni, kreativitas, dan berbagai event publik terbukti menjadi magnet yang menggerakkan roda ekonomi kota.

Namun, di balik capaian tersebut, muncul pertanyaan mendasar mengenai arah kebijakan ekonomi kota, apakah pertumbuhan ini benar-benar inklusif?

“Bandung hari ini ramai oleh event dan aktivitas seni, tapi banyak pengusaha lokal masih berdiri di luar pagar. Kita sering hanya jadi penonton di kota sendiri,” ujar Billy Martasandy, Selasa (27/1).

Baca Juga:Awal 2026, BULOG Kancab Bandung Gencarkan Penyerapan GKP di Sentra Produksi Padi SumedangBrother Chang Dibuka di Bandung, Perpaduan Cita Rasa Asia dan Kisah Inspiratif

Menurut Billy, lonjakan kunjungan wisatawan yang dipicu oleh berbagai kegiatan, mulai dari pertunjukan seni, seminar, forum ilmiah, hingga kompetisi olahraga, belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peluang usaha yang merata.

Keterlibatan pengusaha lokal, khususnya UMKM dan pengusaha muda, masih kerap bersifat insidental dan tidak terstruktur.

“Kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi, jangan hanya fokus pada angka dan laporan statistik. Pertumbuhan yang sehat itu ketika pelaku usaha lokal merasakan dampaknya secara langsung,” tegasnya.

Billy menilai, dengan nilai ekonomi Kota Bandung yang telah mencapai ratusan miliar rupiah, seharusnya pemerintah kota memiliki keberanian untuk merumuskan kebijakan yang lebih progresif.

Event seni dan pariwisata, menurutnya, perlu didesain sebagai instrumen penguatan ekosistem usaha, bukan sekadar agenda keramaian tahunan.

“Event besar seharusnya membuka rantai pasok bagi pengusaha lokal, dari kuliner, fesyen, logistik, sampai ekonomi kreatif. Kalau itu tidak diatur sejak awal, peluangnya akan terus diambil oleh pihak-pihak yang sudah mapan,” kata Billy.

Ia juga menekankan bahwa seni telah menjadi identitas kuat Kota Bandung yang menarik jutaan wisatawan. Namun tanpa kebijakan yang berpihak, identitas tersebut berpotensi hanya menjadi etalase kota.

Baca Juga:Belanja di Ciwalk Makin Seru, Banyak Hadiah dan Promo RomantisIni 4 Jenis Olahraga Ringan, Tubuh Makin Sehat!

“Seni itu aset ekonomi, bukan hanya dekorasi. Kalau kebijakannya tidak melibatkan pengusaha lokal, maka nilai tambahnya akan bocor ke luar,” ujarnya.

Billy menegaskan bahwa pengusaha lokal bukan pesaing pemerintah, melainkan mitra strategis dalam membangun ekonomi kota yang berkelanjutan.

“Kami tidak minta dimanjakan, kami minta dilibatkan. Kolaborasi yang nyata antara pemerintah, seniman, dan pengusaha adalah kunci agar Bandung tidak hanya ramai, tapi juga kuat secara ekonomi,” pungkasnya. (Dam)

0 Komentar