“Literasi digital bukan hanya penting bagi anak, tetapi juga bagi ibu sebagai pendamping utama dalam keseharian,” terangnya.
Di luar keluarga, peran komunitas, sekolah, dan negara tak kalah penting. Sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak, penguatan peran sekolah, serta optimalisasi layanan UPTD PPA perlu berjalan beriringan.
Menurut Kusnia, tanpa pendekatan yang menyeluruh, child grooming akan terus menjadi ancaman tersembunyi yang sulit diputus mata rantainya.
Baca Juga:Tancap Gas! Indonesia Manfaatkan WEF Davos 2026 untuk Perkuat Posisi di Mata Investor Global Reformasi Tata Kelola, Dedi Mulyadi akan Pangkas Puluhan BUMD Jabar Jadi Satu Holding
Bagi UPTD PPA Kota Cimahi, child grooming bukan semata persoalan moral atau individual, melainkan masalah struktural yang menuntut kesadaran kolektif.
“Tanpa upaya pencegahan yang konsisten dan berbasis literasi, anak-anak akan terus berada di posisi paling rentan dalam lanskap digital yang semakin tak terbendung,” tandasnya. (Mong)
