JABAR EKSPRES – Uni Eropa menegaskan tidak berniat memicu konflik dengan Amerika Serikat terkait isu Greenland, namun tetap berkomitmen mempertahankan sikapnya di tengah kebuntuan tarif. Hal tersebut disampaikan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, pada Senin.
Kallas menilai keamanan kawasan Arktik merupakan kepentingan bersama antara Eropa dan Amerika Serikat yang semestinya dibahas melalui jalur diplomasi dengan sekutu transatlantik. Meski demikian, ia menolak penggunaan ancaman tarif sebagai alat tekanan. Menurutnya, kedaulatan bukanlah komoditas yang bisa ditawar. Uni Eropa, kata Kallas, tidak mencari konfrontasi, tetapi siap menjaga posisinya dan memiliki berbagai instrumen untuk melindungi kepentingan Eropa.
“Keamanan Arktik adalah kepentingan bersama transatlantik, dan dapat dirundingkan dengan sekutu AS. Namun, ancaman tarif bukanlah cara yang tepat. Kedaulatan tidak untuk diperjualbelikan. Kami tidak ingin mencari konflik, tetapi akan mempertahankan posisi kami. Eropa memiliki berbagai cara untuk melindungi kepentingannya,” ujarnya.
Baca Juga:Polemik Lahan Carik Desa Padasuka, DPRD Bandung Minta Pemdes dan Disdik Segera Cari SolusiTrump Ajak Hungaria Jadi Anggota Pendiri Dewan Perdamaian Gaza
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu mengumumkan rencana pemberlakuan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari. Tarif tersebut bahkan disebut akan naik hingga 25 persen pada Juni, kecuali Amerika Serikat berhasil mengakuisisi Greenland.
Menanggapi hal itu, Komisioner Perdagangan Uni Eropa Valdis Dombrovskis menyatakan ancaman tarif dari Washington tidak dapat diterima. Ia mengungkapkan bahwa Dewan Eropa akan mengadakan pertemuan luar biasa pada Kamis guna menyusun langkah respons.
Dombrovskis juga tidak menutup kemungkinan penggunaan tekanan ekonomi terhadap Amerika Serikat, termasuk penerapan tarif balasan.
Meski demikian, Uni Eropa tetap membuka ruang dialog. Dombrovskis menegaskan bahwa Brussel berupaya menjalin komunikasi dengan Washington untuk mencari solusi yang konstruktif, sembari menyiapkan opsi respons lain jika diperlukan.
“Kami berupaya untuk berdialog dengan AS dan menemukan solusi yang konstruktif, tetapi kami juga mempertimbangkan kemungkinan respons lain yang dapat kami gunakan untuk melakukannya,” katanya.
Sementara itu, Trump kembali menegaskan pandangannya bahwa Greenland—wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark—seharusnya berada di bawah kendali Amerika Serikat. Pernyataan tersebut mendapat penolakan tegas dari otoritas Denmark dan Greenland, yang memperingatkan Washington agar menghormati kedaulatan serta integritas teritorial mereka.*
