Pegadaian Kanwil X Jabar Dukung Tren Loud Budgeting: Seni Berani Berhemat demi Masa Depan

PEGADAIAN
Pegadaian Kanwil X Jabar Dukung Tren Loud Budgeting: Seni Berani Berhemat demi Masa Depan
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah gempuran budaya konsumerisme dan tren flexing di media sosial, muncul sebuah fenomena baru yang disebut dengan Loud Budgeting.

Tren ini pertama kali viral melalui platform TikTok dan dengan cepat menjadi referensi finansial baru bagi Generasi Z dan Milenial. Berbeda dengan metode penghematan tradisional yang sering kali terkesan “pelit”, loud budgeting justru dilakukan secara vokal dan penuh kebanggaan.

Secara sederhana, loud budgeting adalah tindakan menyatakan secara terbuka bahwa seseorang sedang memprioritaskan tujuan keuangan jangka panjang di atas keinginan sesaat.

Baca Juga:Festival ‘Tring!’ Pegadaian Kanwil X Jabar di Cirebon Ajak Masyarakat Berinvestasi Emas DigitalMudahkan Masyarakat Berinvestasi Emas dalam Genggaman, PT Pegadaian Kanwil X Jabar Luncurkan Aplikasi Tring!

Hal ini merupakan bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO). Seperti yang dilakukan seorang karyawan BUMN asal Bandung, Aji (28), yang dengan tegas menyuarakan keinginannya untuk menabung demi rumah impian.

“Dulu saya malu menolak ajakan nongkrong mahal. Sekarang, saya lebih berani bilang, ‘Aku tidak bisa ikut malam ini karena sedang fokus tabung emas untuk DP rumah’. Hasilnya, bulan ini saya bisa menabung emas lebih dari satu gram. Rasanya lebih melegakan,” ungkap Aji.

Normalisasi Kondisi Keuangan

Loud budgeting dianggap sebagai langkah revolusioner karena menggerus stigma sosial dan menormalisasi kondisi keuangan yang terbatas demi rencana masa depan.

Tren ini mendorong value-based spending, di mana anggaran dialihkan dari pengeluaran impulsif—seperti kopi mahal harian—ke aset produktif seperti emas dan saham.

Menanggapi fenomena ini, Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kantor Wilayah X Jawa Barat, Dede Kurniawan, melihat bahwa masyarakat Jawa Barat, khususnya anak muda, mulai menunjukkan perubahan perilaku keuangan yang signifikan ke arah positif.

“Kami melihat loud budgeting bukan sekadar tren sesaat, melainkan momentum bagi masyarakat Jawa Barat untuk lebih jujur terhadap kapasitas finansialnya. Di wilayah kerja kami, kesadaran untuk mengalihkan gaya hidup konsumtif ke investasi riil seperti emas terus meningkat. Emas tetap menjadi primadona karena sifatnya yang likuid dan tahan inflasi,” ujar Dede Kurniawan.

Dede menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu ragu untuk memulai investasi meskipun dengan nominal kecil.

0 Komentar