JABAR EKSPRES – Angin puting beliung menerjang kawasan Sport Center di Kelurahan Langensari, Kecamatan Banjar. Kejadian itu mengakibatkan kerusakan material yang cukup signifikan pada fasilitas olahraga publik tersebut.
Dampak terbesar terlihat pada atap tribun utama gor. Atap yang berbahan seng tersebut terlepas dan terpelintir akibat terjangan angin kencang puting beliung. Selain itu, beberapa bagian atap canopy atau penutup jalan setapak di area sport center juga mengalami kerusakan serupa. Material seng yang terlepas tersebut berserakan di dalam lapangan dan area sekitarnya, menimbulkan pemandangan yang porak-poranda.
Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjar sigap mendatangi lokasi usai kejadian untuk melakukan pendataan dan assessment awal. Tim mencatat kerusakan pada struktur bangunan serta mencoba mengamankan area yang berpotensi membahayakan jika terjadi angin susulan. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka yang dilaporkan dalam peristiwa ini, menyusul cepatnya angin berlalu dan karena aktivitas di gor yang tidak padat pada saat kejadian.
Baca Juga:Rumah Ambruk Akibat Angin Puting Beliung, Tiga Anak Yatim di Pacet Kabupaten Bandung MengungsiPuting Beliung Terjang Tiga Kecamatan, Farhan Pastikan Bantuan Cepat Tiba
Kepala BPBD Kota Banjar, Ruhimat, mengatakan angin puting beliung terjadi cukup cepat disertai hujan. “Kami sudah turun ke lapangan untuk melihat langsung dampaknya. Fokus kami saat ini adalah mendata kerugian material yang ditimbulkan,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).
Sementara itu, berdasarkan estimasi sementara yang dilakukan oleh pihak pengelola fasilitas bersama aparat setempat, total kerugian material akibat bencana ini ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Angka tersebut terutama berasal dari kerusakan atap tribun dan canopy yang memerlukan perbaikan dan penggantian material. Kerugian tersebut belum termasuk potensi biaya lain seperti tenaga kerja perbaikan dan dampak terhadap jadwal kegiatan olahraga yang seharusnya berlangsung di GOR Langensari.
Puting beliung sendiri merupakan fenomena cuaca ekstrem yang sering terjadi pada masa transisi musim atau pancaroba. Kejadian di Banjar ini kembali mengingatkan akan potensi bencana berbasis hidrometeorologi yang meningkat.
“Masyarakat harus selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang mendadak, terutama ketika muncul awan gelap cumulonimbus (CB) yang menjulang tinggi, yang sering menjadi pertanda potensi angin kencang, puting beliung, atau hujan lebat disertai petir,” kata Ruhimat.
