Padahal sudah jelas pasarnya ada di Asia Tenggara, Upin & Ipin Universe malah dibanderol semahal game AAA. Kemudian saat sudah dirilis, game ini penuh bug, kontennya sedikit, dan mini game-nya repetitif.
Kualitasnya sangat tidak sebanding dengan harga ‘gilanya’, dan dinilai cuma mencari keuntungan dari popularitas serialnya.
5. Little Nigthmares 3
Kepindahan Little Nigthmares ke Supermassive Games pada judul ketiganya ternyata menghilangkan sentuhan magis ala Tarsier Studio. Masalah utamanya ada dua: pertama, kontrol platformer yang acapkali tidak akurat.
Baca Juga:Disebut akan Rilis Januari 2026, Bagaimana Spesifikasi dan Fitur Infinix Note Edge?Persib vs Ratchaburi: Rekor Apik Maung Bandung Lawan Klub Thailand di ACL 2
Sementara yang kedua adalah desain puzzle-nya kalah menarik dan kreatif dari dua game Little Nigthmares sebelumnya.
6. Nintendo Switch 2 Welcome Tour
Entah apa yang merasuki Nintendo mengubah Switch 2 Welcome Tour sebuah aplikasi pengenalan konsol jadi game berbayar. Terbukti manuver ini bisa dibilang sia-sia.
Nintendo Switch 2 Welcome Tour tidak memberikan pengalaman bermain yang utuh, melainkan lebih seperti berisikan demo teknis interaktif yang bosenin.
7. Mindseye
Sempat digadang-gadang sebagai game mirip GTA yang ambisius, Mindseye berakhir amburadul saat dirilis. Bukan hanya optimasi performanya ‘horor’ dengan melimpahnya bug teknis yang sering merusak progres permainan.
Akan tetapi Mindseye dalam hal gameplay pun kenyataannya linear dan tidak benar-benar open world seperti harapan penggemar.
