Beberapa Indikator Kinerja Dedi Mulyadi Belum Tercapai, Pengamat: Butuh Waktu!

Ilustrasi Gubernur Jabar Dedi Mulyadi
Ilustrasi Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. (dok humas)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, merespons capaian Indikator Kinerja Makro (IKM) Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Menurutnya, berbagai kebijakan yang dijalankan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi masih membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil yang optimal.

Indikator Kinerja Makro (IKM) memang menjadi salah satu indikator penilaian kinerja pemerintah daerah yang meliputi pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Gini Ratio, hingga soal Laju Pertumbuhan Ekonomi.

Baca Juga:Tujuh Jabatan Camat di Bogor Masih Kosong, BKPSDM Petakan Lulusan IPDNRidwan Kamil Sampaikan Permohonan Maaf, Akui Kesalahan dalam Pernikahan 29 Tahun

Acuviarta menuturkan, kepemimpinan Dedi Mulyadi bersama Wakil Gubernur Erwan Setiawan telah menghasilkan sejumlah capaian, namun masih terdapat indikator yang belum memenuhi target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Salah satunya soal Gini Ratio yang saat ini berada di angka 0,416. Padahal, target RPJMD berada pada kisaran 0,383–0,390.

Selain itu, tingkat kemiskinan di Jawa Barat masih berada di angka 7,02 persen, sementara target RPJMD berada pada rentang 5,85–6,46 persen.

Menurut Acuviarta, Gini ratio ini cukup erat kaitannya dengan kemiskinan. “Sementara kemiskinan ini juga erat dengan penyerapan tenaga kerja. Ini juga belum maksimal,” katanya, Minggu (28/12).

Ia menjelaskan, dari sisi pengeluaran masyarakat sebenarnya relatif stabil. Artinya kemiskinan itu nampaknya memang banyak terpengaruh dari sisi pengangguran.

“Karena dari komponen pendapatan memang menurut saya agak terganggu. Daya beli masyarakat tuh agak lambat. Dan kalau dilihat di pertumbuhan ekonomi di triwulan ketiga kemarin, ya, konsumsi rumah tangga itu minus memang,” kata dia.

Menurut Acuviarta, kondisi tersebut menunjukkan bahwa rendahnya daya beli masyarakat serta tingginya tingkat pengangguran masih menjadi faktor utama penyebab kemiskinan di Jawa Barat.

Baca Juga:Tersirat! Federico Barba Memang Tinggalkan Persib, Begini Katanya!Federico Barba Not For Sale: 'Ambil Julio Aja, Dibonusan Febri'

Ia juga menyoroti Gini Ratio Jawa Barat yang masih tergolong tinggi, sebagai cerminan ketimpangan ekonomi, khususnya di wilayah perkotaan.

Ketimpangan tersebut juga terlihat dari perbedaan pembangunan antara wilayah Jawa Barat bagian selatan dan kawasan Bandung Raya. Oleh karena itu, pemerataan pembangunan dinilai menjadi hal yang penting.

“Kalau perkotaan itu menurut kami sumber masalahnya juga akses terhadap pekerjaan, ” katanya.

Acuviarta menilai, meskipun sejumlah IKM Pemprov Jabar belum tercapai, indikator tersebut masih relevan digunakan.

0 Komentar