Tingkatkan Roda Perekonomian, 50 Perusahaan Berminat Investasi Sebesar Rp240 Triliun 

Tingkatkan Roda Perekonomian, 50 Perusahaan Berminat Investasi Sebesar Rp240 Triliun 
Ilustrasi 50 perusahaan berminat investasi sebesar Rp240 triliun. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan sebanyak 50 perusahaan menyatakan minat investasi di berbagai kawasan transmigrasi dengan potensi investasi senilai Rp180-240 triliun dalam empat tahun ke depan.

“Simulasi (Tim Ekspedisi Patriot/TEP) lintas kampus memperkirakan potensi investasi masuk ke kawasan transmigrasi mencapai Rp180-240 triliun dalam empat tahun ke depan,” kata Iftitah dikutip dari ANTARA, Rabu (24/12).

Menurutnya, investasi tersebut mampu menyerap hingga 200 ribu tenaga kerja baru yang diharapkan bisa menggerakkan roda perekonomian di daerah transmigrasi.

Baca Juga:Ciptakan Ekonomi Baru bagi Warga, Kementrans Kembangkan Wirausaha Wisata Gencarkan Program Mudik Gratis Selama Nataru, Menhub: Perjalanan agar Lebih Aman

Bahkan, menurut riset TEP sejumlah kawasan strategis yang berpotensi menjadi tujuan investasi antara lain Kawasan Transmigrasi Kaliorang di Kalimantan Timur dengan potensi di sektor tambang, sawit dan Pelabuhan.

“Kami (Kementerian Transmigrasi) juga sebetulnya sudah melakukan (penandatanganan) MoU (memorandum of understanding), contoh dengan LX International Corp dari Korea Selatan, itu mereka akan masuk investasi Rp1,2 triliun untuk Pelabuhan,” ucap Iftitah.

Ada rencana investasi sebesar Rp5 triliun di Kawasan Transmigrasi Melolo, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi pengembangan pabrik gula, industry tebu, berserta bioetanol.

Sementara untuk di Merauke, Papua Barat, investasi yang berpotensi masuk bernilai lebih dari Rp100 triliun untuk mengembangkan potensi perikanan, kelautan dan tebu.

Iftitah menjelaskan, berdasarkan skalanya investasi senilai Rp500 juta hingga 3 miliar cukup untuk membangun fasilitas alat pengering produk pertanian bertenaga surya (solar dryer), maupun instalasi pengolahan minyak kelapa murni (virgin coconut oil/VCO) dan minya atsiri pala pada skala desa.

Pada skala kawasan, investasi sebesar Rp2-10 miliar dibutuhkan untuk mengembangkan rice milling unit (RMU) atau mesin penggiling untuk komoditas singkong maupun jagung dengan kapasitas 5-10 ton per hari.

Sedangkan, investasi dengan jumlah Rp15-25 miliar dibutuhkan untuk pengembangan sentra industry kecil dan menengah (IKM), pabrik pengolahan VCO, fasilitas cold storage (unit penyimpangan berpendingin), serta koridor logistik laut pada skala kepulauan dan berpotensi menaikkan pendapatan kawasan hingga 45-60 persen.

Baca Juga:Ketimpangan Sosial di Jabar Masih Tinggi, Ini Jurus Pemda Turunkan Angka Kemiskinan EkstremPeresmian Pabrik, Penutup Penting bagi Tahun Gemilang VinFast di Indonesia pada 2025 

Adapun untuk klaster sawit, pabrik berkapasitas 5-30 ton tandan buah segar (TBS) per jam membutuhkan investasi Rp30-100 miliar dengan kebutuhan lahan 10-15 hektare.

0 Komentar