JABAR EKSPRES – Belakangan ini, nama aplikasi MBA mulai ramai diperbincangkan di media sosial. Aplikasi ini diklaim sebagai platform penghasil uang yang menawarkan peluang investasi dengan keuntungan menjanjikan. Tak sedikit warganet yang tergiur setelah melihat unggahan berupa bukti penarikan dana dan ajakan bergabung melalui tautan referral.
Namun, di balik klaim manis tersebut, muncul pertanyaan besar di kalangan masyarakat: apakah aplikasi MBA benar-benar aman dan terpercaya, atau justru berisiko menjadi penipuan berkedok investasi?
Salah satu hal yang langsung menimbulkan kecurigaan adalah minimnya informasi resmi mengenai aplikasi MBA. Di media sosial, promosi yang beredar hampir seluruhnya hanya berisi:
Baca Juga:5 Contoh Long Text Hari Ibu Paling Menyentuh Hati, Tinggal Kamu Salin Cocok Dikirim 22 DesemberHUT BRI KE-130, BRI REGION 9 TEGASKAN KOMITMEN SOSIAL, LINGKUNGAN, DAN KEBERSAMAAN INSAN BRILiaN
- Screenshot penarikan dana
- Ajakan mengundang anggota baru
- Tautan pendaftaran
Sayangnya, hampir tidak ada penjelasan rinci mengenai sumber keuntungan, model bisnis, maupun aktivitas usaha nyata yang dijalankan oleh aplikasi tersebut.
Saat dicoba mengakses situs pendaftaran aplikasi MBA, pengguna diminta mendaftar menggunakan nomor telepon. Namun yang menjadi sorotan, tidak ada proses verifikasi OTP.
Padahal, aplikasi yang serius dan mengutamakan keamanan biasanya mewajibkan verifikasi nomor untuk memastikan identitas pengguna. Tanpa proses ini, pendaftaran dapat dilakukan dengan nomor sembarangan, yang menandakan sistem keamanan sangat lemah.
Setelah berhasil masuk, pengguna disambut pengumuman yang cukup mencolok. Aplikasi MBA mengklaim sebagai mitra strategis pemerintah Indonesia dan mengajak pengguna “memulai babak baru kehidupan”.
Sayangnya, klaim besar tersebut tidak disertai bukti konkret, seperti dokumen kerja sama, logo instansi resmi, atau pernyataan dari lembaga pemerintah terkait. Klaim sepihak semacam ini kerap digunakan dalam modus investasi ilegal untuk membangun kepercayaan palsu.
Jika ditelusuri lebih dalam, aktivitas utama dalam aplikasi MBA bukanlah menjalankan bisnis nyata, melainkan merekrut anggota baru. Semakin banyak orang yang diundang, semakin besar bonus yang dijanjikan.
Model seperti ini sangat identik dengan money game dan skema Ponzi, di mana keuntungan tidak berasal dari hasil usaha, melainkan dari setoran anggota baru. Ketika perekrutan melambat, sistem biasanya runtuh dan merugikan banyak orang.
Baca Juga:Bersama Danantara dan BUMN, TelkomGroup Kirim Relawan dan Bantuan Kemanusiaan di Masa PemulihanViral! Kokua Kokua atau Keku Keku Bahasa Alien? Ternyata Ini Artinya
Hal lain yang tak kalah janggal adalah adanya fitur “Dana Amal” di dalam aplikasi. Dana ini diklaim bisa memberikan keuntungan dan disebut tidak mengandung riba.
