“Batik Cimahi sudah kita punya dengan beberapa motif khas, seperti jirindeh, gambar singkong, ujang, dan teng baja. Itu menjadi ciri khas batik Cimahi,” ucap Ngatiyana.
Meski demikian, ia mengakui Cimahi belum memiliki satu ikon oleh-oleh yang benar-benar mapan. Namun, pemerintah daerah terus mendorong penguatan identitas produk lokal melalui pendampingan UMKM, termasuk kemudahan perizinan, peningkatan kualitas kemasan, hingga fasilitasi akses ekspor.
Selain batik, produk ecoprint juga mulai dikembangkan dan diproduksi. Dalam prosesnya, pemerintah melibatkan kalangan muda, termasuk mahasiswa dan siswa SMK, sebagai bagian dari regenerasi pelaku UMKM.
Baca Juga:Guncang Bursa Transfer Liga 1, Maarten Paes Dikabarkan Dipinjam Persib BandungPersib Siap Bangkit Hadapi Bhayangkara FC, Bobotoh Jadi Kunci Motivasi
“Ecoprint sudah mulai produksi. Tadi kita lihat bersama, melibatkan anak-anak UPI dan anak-anak SMK. Generasi muda inilah yang nantinya menciptakan UMKM Cimahi yang lebih maju,” katanya.
Ngatiyana menegaskan, penguatan UMKM adalah jalan utama agar ekonomi masyarakat Cimahi mandiri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Pemerintah Kota Cimahi.
“Pemerintah kota akan terus memberikan dukungan agar UMKM naik kelas dan menjadi fondasi ekonomi daerah yang berkelanjutan,” tutupnya. (Mong)
