JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Cimahi menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap ketersediaan air bersih. Distribusi air menggunakan tangki, penyediaan tandon komunal, hingga pengeboran sumur menjadi opsi yang disiapkan untuk wilayah yang mulai kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Amy Pringgo, mengatakan persoalan kekeringan dan keterbatasan air bersih tidak hanya terjadi di Cimahi. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah Indonesia akibat musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dan suhu udara yang lebih tinggi.
“Kita sedang mengalami musim kemarau panjang, atau kalau istilah BMKG nya, El Nino. Jadi itu dampaknya suhu udaranya jadi lebih panas dari biasanya atau dari musim kemarau biasanya, dan juga durasinya lebih panjang,” kata Amy kepada Jabar Ekspres di ruang kerjanya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Baca Juga:Rachmat Irianto, Wajah Manusiawi Persebaya JuaraPemkab Tasikmalaya Kebut Perbaikan Jalan, Warga Diminta Ikut Menjaga agar Tak Cepat Rusak
Menurut Amy, kondisi tersebut merupakan bagian dari kajian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dampaknya mulai dirasakan terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat, termasuk di Kota Cimahi.
Salah satu persoalan yang muncul adalah penurunan muka air tanah. Kondisi itu membuat sejumlah sumur dangkal yang selama ini menjadi sumber air warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Nah, ini kan apa saja dampak dari kita kekurangan air itu, misalnya seperti penurunan muka air tanah tentunya, sehingga yang tadinya masyarakat bisa memperoleh air bersihnya dari sumur-sumur dangkal yang mereka miliki, sekarang tentunya ada beberapa wilayah yang tidak bisa tersuplai lagi atau tidak bisa dipenuhi kebutuhan air bersihnya,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, DPKP Cimahi memilih memperkuat kolaborasi dengan pihak eksternal. Salah satunya melalui kerja sama dengan TNI dalam program TNI Manunggal Air.
Amy mengatakan langkah tersebut diperlukan karena terdapat sejumlah wilayah yang belum dapat segera terlayani jaringan perpipaan. Dalam kondisi normal, pemenuhan kebutuhan air akan dilakukan melalui sistem pipanisasi dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia.
“Jadi kita sadar, ada beberapa daerah yang memang tidak bisa kita secara cepat layani. Kalau kita, memang metodenya akan menggunakan pipanisasi sistemnya. Jadi, supaya meminimalisir dampak dari penurunan muka air tanah,” kata Amy.
