Belum Berjalan Normal, Bandara Husein Dinilai Krusial Bagi Iklim Bisnis dan Investasi Kota Bandung

Belum Berjalan Normal, Bandara Husein Dinilai Krusial Bagi Iklim Bisnis dan Investasi Kota Bandung
Calon penumpang memotret pesawat Susi Air di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Belum berjalan normalnya aktifitas Bandara Husein Sastranegara dinilai memberi dampak signifikan terhadap geliat usaha dan iklim investasi di Kota Bandung.

Kalangan pengusaha muda menilai keberadaan bandara di pusat kota tersebut memiliki peran strategis dalam menunjang mobilitas bisnis, khususnya bagi pelaku usaha rintisan dan industri kreatif.

Pengusaha muda asal Bandung, Billy Martasandy, menyebut Bandara Husein Sastranegara merupakan aset vital bagi pertumbuhan ekonomi kota. Lokasinya yang hanya berjarak sekitar lima kilometer dari pusat kota dinilai sangat memudahkan akses investor, mitra usaha, maupun pelaku bisnis dari luar daerah dan luar negeri.

Baca Juga:Jelang Nataru, Bandara Husein Sastranegara Buka Dua Rute Penerbangan BaruBandung Kehilangan 800 Ribu Wisatawan Asing Imbas Penutupan Bandara Husein

“Bandara Husein itu aset super penting buat Bandung, terutama buat pengusaha muda yang lagi membangun bisnis. Aksesnya cepat dan efisien, jadi orang yang mau investasi atau kerja sama tidak perlu mikir dua kali soal waktu dan biaya,” ujar Billy, Rabu (17/12).

Menurutnya, Bandung memiliki ekosistem startup dan industri kreatif yang kuat. Namun, tanpa dukungan akses transportasi udara yang dekat dan efisien, daya tarik investasi bisa menurun.

Billy juga menilai penutupan Bandara Husein sejak akhir 2023 telah melemahkan daya saing Bandung sebagai kota bisnis sekaligus destinasi Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Sebelumnya, bandara tersebut melayani penerbangan domestik dan sejumlah rute internasional skala kecil yang menunjang kedatangan peserta konferensi, pameran, dan agenda bisnis.

“Sekarang dampaknya terasa. Banyak pengusaha mengeluh kunjungan menurun, event makin sepi, dan Bandung kalah saing dengan kota lain yang akses udaranya lebih lancar seperti Jakarta atau Yogyakarta,” katanya.

Dari sisi efisiensi, Billy membandingkan Bandara Husein dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Meski mengakui Kertajati memiliki kapasitas besar untuk penerbangan internasional, ia menilai bandara tersebut kurang ideal untuk kebutuhan bisnis harian pengusaha Bandung.

“Kertajati jaraknya sekitar 100 kilometer dari Bandung. Untuk urusan meeting singkat atau perjalanan bisnis cepat, waktu tempuh 1–2 jam jelas menambah biaya dan mengurangi kelincahan operasional,” ujarnya.

Baca Juga:Denyut Ekonomi Bandung Menunggu Suara Mesin Pesawat di Bandara HuseinDorong Bandara Husein Beroperasi Kembali, Farhan: akan Membuka Akses Perdagangan

Ia menegaskan, jarak dan waktu tempuh ke Kertajati menjadi hambatan nyata, terutama bagi pengusaha muda yang memiliki keterbatasan modal dan membutuhkan mobilitas tinggi untuk membangun jaringan dan mengeksekusi peluang bisnis.

0 Komentar