“Produktivitas bisa turun karena terlalu banyak waktu habis di perjalanan. Dalam jangka panjang, ini bikin Bandung kurang menarik sebagai kota ekspansi usaha,” tambahnya.
Billy pun mendorong pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk memprioritaskan kembali pengoperasian Bandara Husein Sastranegara melalui skema dwi bandara bersama Kertajati.
“Bandung butuh bandara yang dekat, murah, dan efisien. Jangan sampai potensi ekonomi kota ini mandek hanya karena persoalan akses transportasi,” tegasnya.
Baca Juga:Jelang Nataru, Bandara Husein Sastranegara Buka Dua Rute Penerbangan BaruBandung Kehilangan 800 Ribu Wisatawan Asing Imbas Penutupan Bandara Husein
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan bahwa aspirasi pelaku usaha terkait akses transportasi udara menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandung. Ia menegaskan, Pemkot terus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat dan pemangku kebijakan terkait untuk mencari solusi terbaik.
“Bandung adalah kota jasa, kota kreatif, dan kota pertemuan. Aksesibilitas menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing ekonomi. Aspirasi pelaku usaha akan kami dorong agar menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan transportasi udara ke depan,” ujar Farhan.
Menurut Farhan, Pemkot Bandung tetap berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi, sembari menyesuaikan dengan kebijakan nasional dan aspek keselamatan penerbangan.
Dengan berbagai masukan dari pelaku usaha, harapan untuk menghidupkan kembali peran strategis Bandara Husein Sastranegara dinilai semakin menguat, seiring kebutuhan Bandung untuk tetap kompetitif sebagai pusat bisnis dan ekonomi kreatif nasional. (Dam)
