Secara rinci, Ijan memaparkan proses reproduksi buatan tersebut. Dimulai dengan memilih indukan betina yang telah matang gonad (bertelur) dan mengkarantinanya selama 24 jam. Indukan betina kemudian disuntik hormon perangsang ovulasi. Secara paralel, indukan jantan juga disuntik agar sperma yang dihasilkan matang. Setelah itu, dilakukan pengambilan sperma dari indukan jantan dengan cara pembedahan, kemudian sperma dicacah dan dicampur dengan telur yang diperas (stripping) dari indukan betina.
“Setelah proses itu indukan betina kita pijat atau striping agar telurnya keluar. Kemudian kita campur dengan cairan indukan pejantan. Kita diamkan di akuarium selama 24 jam agar menetas,” terang Ijan.
Setelah telur menetas, tahapan selanjutnya adalah pemeliharaan larva dan pembesaran benih dengan pemberian pakan sesuai fase pertumbuhan. Menurut perhitungan Ijan, siklus budidaya lengkap mulai dari pemijahan hingga mencapai ukuran konsumsi membutuhkan waktu sekitar delapan bulan.
Baca Juga:Hasil Uji Lab Keluar, Dispernakan Pastikan Ikan Budidaya Saguling dan Cirata Tidak Tercemar MerkuriBudidaya Ikan Nila Sistem Bioflok Dorong Swasembada Pangan di Bandung Barat
Keberhasilan percobaannya yang terakhir cukup menggembirakan. Dari sepasang indukan unggul, Ijan berhasil menghasilkan sekitar 60.000 bibit ikan bebeong. “Semoga ke depan bisa produksi skala besar dan menjadi khas Kota Banjar,” harap Ijan penuh optimisme. (CEP)
