Ijan Sukses Kembangkan Budidaya Ikan Bebeong Khas Sungai Citanduy, Perkilo Capai Rp150 Ribu

Ijan Sukses Kembangkan Budidaya Ikan Bebeong Khas Sungai Citanduy, Perkilo Capai Rp150 Ribu
Ijan berada di kolam budidaya ikan Bebeong di Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari Kota Banjar. Setelah empat kali gagal, Ijan berhasil membudidayakan ikan yang menjadi khas Kota Banjar ini. (Foto: Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Keberhasilan seorang warga dalam membudidayakan ikan bebeong, spesies ikan khas Sungai Citanduy, menjadi angin segar bagi pelestarian biodiversitas lokal dan potensi ekonomi perikanan di Kota Banjar.

Ikan yang secara fisik mirip dengan ikan lele tersebut, selama ini lebih dikenal sebagai ikan tangkapan alam dan kurang familiar di kalangan masyarakat luas akibat minimnya upaya budidaya.

Kini, berkat ketekunan Ijan, warga Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, ikan yang hidup dan berkembang biak secara alami di sungai ini mulai dibesarkan di kolam budidaya.

Baca Juga:Hasil Uji Lab Keluar, Dispernakan Pastikan Ikan Budidaya Saguling dan Cirata Tidak Tercemar MerkuriBudidaya Ikan Nila Sistem Bioflok Dorong Swasembada Pangan di Bandung Barat

Ikan bebeong yang hidup di perairan Sungai Citanduy dinilai memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk dibudidayakan secara terkontrol. Ijan mengakui, perjalanan menuju kesuksesan ini tidaklah mulus.

Uji coba budidaya yang telah ia lakukan sejak empat bulan lalu sempat mengalami kegagalan beruntun sebanyak tiga kali. Rasa tertantang untuk melestarikan ikan yang populasinya semakin langka di alam, mendorongnya terus bereksperimen.

“Awalnya saya merasa tertantang untuk melakukan budidaya ikan bebeong karena tingkat populasinya yang sudah mulai langka dan prosesnya cukup sulit,” ujar Ijan, Selasa (16/12/2025).

Salah satu kendala utama terletak pada pencarian indukan berkualitas. Ijan menjelaskan bahwa indukan bebeong yang ideal untuk pembibitan harus memiliki bobot sekitar 8 ons per ekor.

Mencari ikan dengan kriteria tersebut di sungai bukanlah hal mudah, terlebih harganya di pasaran bisa mencapai Rp150.000 per kilogram. Kegagalan awal justru terjadi karena penggunaan indukan dengan bobot yang belum memadai.

“Sempat gagal tiga kali karena bobot indukan saat itu cuma 4 ons. Setelah uji coba pakai indukan yang 8 ons baru jadi pembibitan,” tuturnya.

Proses inti dari budidayanya adalah teknik induced breeding atau pemijahan yang dirangsang secara buatan. Ijan mengungkapkan bahwa memijahkan ikan bebeong merupakan tahapan tersulit.

Baca Juga:KKP Klaim Teknologi Budidaya Lobster Ri Saingi Vietnam, Benarkah?Ribuan Ton Limbah Sapi Cemari Sungai, Ari Temukan Solusi Lewat Budidaya Cacing

Karakter ikan liar yang melekat pada bebeong, ditambah dengan sifat kanibalnya, membutuhkan perhatian dan perawatan yang sangat hati-hati.

“Prosesnya cukup sulit karena bebeong ini kan ikan liar dari Sungai. Perawatannya juga sulit karena sifatnya kanibal,” jelasnya.

0 Komentar