BMKG Ungkap Penyebab Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Masih Berpotensi Terjadi di Jabar

Pengendara sepeda motor melintas saat kondisi hujan di Jalan Wastukencana, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsy
Pengendara sepeda motor melintas saat kondisi hujan di Jalan Wastukencana, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan hasil analisis dinamika cuaca dan iklim yang menunjukkan potensi hujan disertai petir dan angin kencang masih mengancam wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, hingga 19 Desember 2025.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu, mengatakan analisis tersebut dilakukan berdasarkan perkembangan terkini dinamika atmosfer global dan regional.

“Kondisi cuaca ini kami prediksi berdasarkan dinamika atmosfer terkini hingga 19 Desember 2025,” ujar Teguh Rahayu, Selasa (16/12).

Baca Juga:Dorong Hilirisasi Gas Bumi, PGN Tingkatkan Pemanfaatan Jadi Produk Bernilai TinggiWacana Pilkada Lewat DPRD, Bupati Bandung Pilih Irit Bicara

Ia menjelaskan, berdasarkan skala global, nilai Southern Oscillation Index (SOI) berada di angka +2,9 yang dinilai tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas konvektif di sebagian wilayah Indonesia.

Sementara itu, nilai Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat -0,63 (normal ±0,42), yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat.

“Indeks ENSO di wilayah Nino 3.4 berada di angka -0,74 dari kondisi normal ±0,8, sehingga turut berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di beberapa wilayah Indonesia,” jelasnya.

BMKG juga mencatat Madden Julian Oscillation (MJO) aktif di kuadran 8 atau wilayah belahan barat dan Afrika, yang dinilai tidak signifikan memengaruhi peningkatan curah hujan di Indonesia hingga periode tersebut.

Selain itu, anomali suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature/SST) berkisar antara -2,0 hingga +3,0 derajat Celsius, yang dinilai cukup mendukung pertumbuhan awan hujan. Aktivitas gelombang Rossby ekuatorial juga terpantau aktif di wilayah Jawa Barat dan berpotensi memicu pembentukan awan hujan.

“Terpantau adanya belokan angin dan konvergensi di wilayah Jawa Barat yang turut memengaruhi pertumbuhan awan hujan,” beber Ayu, sapaan akrabnya.

BMKG juga memantau keberadaan Siklon Tropis Bakung di Samudera Hindia barat Lampung yang bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Selain itu, terdapat bibit siklon tropis 93S di perairan selatan Nusa Tenggara yang berdampak tidak langsung terhadap peningkatan kecepatan angin serta tinggi gelombang di perairan selatan Bali, NTB, dan NTT.

Baca Juga:Gunakan Metode Sling Load, Pertamina Gerak Cepat Pasok LPG ke Daerah Bener Meriah Petir Hantam Rumah di Cikalongwetan, Seorang Mahasiswa Terluka

Ayu menambahkan, suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat hingga saat ini masih terpantau hangat, sehingga masih memberikan kontribusi terhadap pembentukan awan hujan skala lokal.

0 Komentar