Teater “K’Clak” Gugah Kesadaran Ekologis Ratusan Pelajar Cianjur Lewat Hibah PISN 2025

Teater Prabu dan Tim Hibah PISN 2025 Sukses Pukau Ratusan Pelajar di Cianjur
Teater Prabu dan Tim Hibah PISN 2025 Sukses Pukau Ratusan Pelajar di Cianjur. FOTO ISTIMEWA
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Gedung Kesenian Cianjur pada Sabtu (13/12) berubah menjadi ruang refleksi kolektif bagi ratusan pelajar SMA dan SMK se-Kabupaten Cianjur. Mereka menyaksikan pementasan teater “K’Clak”, karya kritis tentang krisis lingkungan yang disutradarai dan ditulis oleh Resa L. Mahardhika.

Pertunjukan yang dibawakan Teater Prabu ini merupakan puncak pelaksanaan Hibah Kemendiktisaintek skema BIMA PISN (Program Inovasi Seni Nusantara) Tahun Anggaran 2025. Antusiasme penonton begitu tinggi hingga panitia menggelar pementasan dalam tiga sesi maraton pukul 08.00, 10.30, dan 13.30 WIB.

Pada sesi pertama dan kedua, auditorium nyaris penuh. Lebih dari 400 pelajar larut dalam kisah distopia tentang masa depan manusia ketika air menjadi barang langka yang mematikan. Tidak sekadar hiburan, “K’Clak” menyajikan kritik sosial yang tajam, menampilkan konflik horizontal brutal akibat kelangkaan air dan bagaimana batas moral serta status sosial runtuh saat manusia menghadapi rasa haus ekstrem.

Baca Juga:Wacana Pilkada Lewat DPRD, Bupati Bandung Pilih Irit BicaraGunakan Metode Sling Load, Pertamina Gerak Cepat Pasok LPG ke Daerah Bener Meriah 

Ketua Tim Hibah PISN 2025, Dipo Krisyudhi Ono, menegaskan bahwa seni memiliki kekuatan edukatif yang besar, terutama untuk isu lingkungan. “Isu krisis air sering terasa jauh jika hanya disampaikan lewat data. Tapi lewat teater, isu itu menjadi sangat personal,” ujarnya, Senin (15/12).

Menurut Dipo, “K’Clak” menggambarkan realitas menakutkan bila manusia abai menjaga alam. “Air adalah napas kehidupan. Ketika ia hilang, manusia kehilangan akal sehatnya dan saling memangsa,” tegasnya. Ia optimistis pesan ini akan membekas di benak para pelajar yang memadati gedung sejak pagi.

Sementara itu, Ketua Teater Prabu, Dede Muchlis, menyebut pementasan tiga kali sehari sebagai ujian fisik dan emosional bagi seluruh tim. “Ini ujian stamina yang luar biasa. Naskah Kang Resa penuh ledakan emosi dan konflik fisik, tapi semua lelah itu terbayar saat melihat gedung penuh oleh pelajar,” ujarnya.

Dampak pertunjukan juga dirasakan langsung penonton. Anindya Prameswari Putri, salah satu pelajar sesi pertama, mengaku tersentuh emosional. “Awalnya aku kira cuma nonton drama biasa. Tapi ternyata ‘K’Clak’ bikin merinding. Adegan orang-orang berebut air terasa nyata. Aku jadi sadar sering boros air, pandanganku soal air benar-benar berubah,” pungkasnya.

0 Komentar