Pasar Tenaga Kerja Tidak Mampu Mengimbangi Pertumbuhan Ekonomi

Pasar Tenaga Kerja Tidak Mampu Mengimbangi Pertumbuhan Ekonomi: Bagaimana Program Internasional Mengatasi Masa
Pasar Tenaga Kerja Tidak Mampu Mengimbangi Pertumbuhan Ekonomi: Bagaimana Program Internasional Mengatasi Masalah Kekurangan Talenta
0 Komentar

Bagaimana Program Internasional Mengatasi Masalah Kekurangan Talenta

JABAR EKSPRES – Menurut Namatin tingkat pengangguran dan setengah menganggur yang tinggi di kalangan anak muda, khususnya perempuan usia 18 hingga 24 tahun, terjadi di seluruh dunia.

Masalah ini juga melanda negara-negara di kawasan Asia-Pasifik dan Timur Tengah. Meskipun pertumbuhan ekonomi berlangsung pesat, negara-negara tersebut belum mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup bagi para lulusan.

Di Pakistan, tingkat pengangguran di kalangan anak muda usia 15–24 tahun berada di kisaran sekitar 11%, mencapai14.4% di kalangan perempuan.

Baca Juga:Kerahkan Seluruh Kemampuan, TelkomGroup Percepat Recovery BTS di Lokasi Bencana SumatraAtalia Praratya Akhirnya Gugat Cerai Ridwan Kamil,  Akun IG Langsung Banjir Dukungan Netizen 

Situasinya tidak lebih baik di Timur Tengah: di Yordania, misalnya, tingkat pengangguran perempuan mendekati 30%, dan di kalangan anak muda angkanya mencapai 46% (dengan perempuan yang paling terdampak).

Angka-angka ini mencerminkan tantangan umum bagi negara-negara dengan perekonomian yang berkembang pesat di kawasan tersebut: jutaan anak muda berbakat tetap tidak terserap ke dunia kerja. Bahkan setelah menyelesaikan pendidikan, banyak dari mereka tidak memiliki prospek karier.

HAMBATAN SISTEMIK BAGI PROFESIONAL MUDA

Sebuah kasus terbaru di negara bagian Uttar Pradesh, India, menjadi contoh yang menggambarkan situasi ini.

Pada Mei 2025, lima perempuan diberhentikan dari pekerjaan mereka di Distrik Bulandshahr setelah sebelas tahun mengabdi, akibat adanya ketidaksesuaian dalam dokumen pendidikan mereka.

Bagi banyak orang, menjadi jelas bahwa situasi seperti ini tidak hanya muncul karena persyaratan administratif semata: sebagian perempuan tersebut mungkin menjadi korban penipuan oleh perantara pendidikan, sementara yang lain mungkin sengaja membeli ijazah demi mendapatkan penghasilan tetap dengan lebih cepat.

Namun faktanya tetap sama: mereka telah bekerja selama lebih dari sepuluh tahun, menjalankan tugas dengan baik, dan tidak ada keluhan mengenai kompetensi mereka.

Kisah serupa juga terjadi di negara lain. Di Pakistan pada tahun 2012, di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, 14 perempuan juga kehilangan pekerjaan setelah ijazah mereka diperiksa, meskipun banyak di antara mereka telah lama mengajar dan memiliki reputasi yang baik.

Baca Juga:Promo Pinjaman Bebas Bunga Aplikasi EON Media, Limit Hingga Rp9 jutaan, Benarkah Aman?Easy Credit Card BRI, Bunga Kecil Bisa Tarik Tunai Permudah Transaksi Berbelanja 

Kehilangan pekerjaan dalam kondisi seperti ini sering kali berarti kembali pada ketidakpastian bagi para perempuan tersebut, serta hampir tidak ada kesempatan untuk kembali memasuki dunia profesional.

0 Komentar