JABAR EKSPRES — Banjir yang terus berulang di kawasan Gedebage memunculkan sorotan baru terhadap masifnya pembangunan di wilayah timur Kota Bandung dalam empat tahun terakhir.
Meski Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung telah meningkatkan status kewaspadaan dan memperketat pemantauan di titik rawan, warga menilai persoalan utamanya jauh lebih mendasar: perubahan bentang alam yang berjalan tanpa kendali.
Sejak 2021 hingga 2024, Gedebage menjadi magnet pertumbuhan baru. Perumahan skala besar, cluster baru di kaki Gunung Manglayang, kawasan komersial, dan infrastruktur pendukung bermunculan secara serentak.
Baca Juga:BPBD Kota Bandung Masukan Gedebage pada Titik Prioritas Pemantauan BanjirRute Strategis Agar Tak Terjebak Banjir dan Lautan Bobotoh Hari Ini di Kota Bandung
Alih fungsi lahan terjadi cepat, terutama di Rancabolang, Rancanumpang, Cisaranten Kidul, dan Cimincrang, empat wilayah yang dalam satu dekade kehilangan ratusan hektare sawah dan lahan terbuka.
Data kompilasi dari berbagai kajian pemetaan mencatat, area sawah yang pada 2014 mencapai 498 hektare, tinggal sekitar 130 hektare pada 2021. Tren penyusutan terus berlanjut hingga 2024, seiring pertumbuhan hunian baru dan ekspansi kawasan bisnis. Dampaknya kini nyata, ruang resapan menyusut, sementara curah hujan yang ekstrem terus meningkat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Bandung, Amires Pahala, menegaskan Gedebage kini menjadi satu dari tiga titik prioritas pemantauan banjir bersama kawasan Cikapundung dan Pagarsih.
“Pemantauan dilakukan tanpa jeda karena perubahan debit air bisa terjadi tiba-tiba, terutama jika hujan turun di Bandung Utara. Limpasan dari Lembang dan Tahura langsung bergerak ke timur dan mempercepat kenaikan air di Gedebage,” jelas Amires.
Ia memastikan koordinasi dengan aparat kewilayahan, dinas teknis, hingga relawan diperkuat untuk mengantisipasi kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi berlanjut beberapa pekan ke depan.
Namun, bagi warga, hanya memperketat pemantauan belum cukup menghentikan banjir yang makin sering terjadi meski hujan turun dalam durasi singkat.
Rahmat (48), warga Rancabolang, mengaku banjir di wilayahnya semakin cepat muncul dan semakin sulit surut dalam tiga tahun terakhir.
Baca Juga:BPBD Agam: Jumlah Korban Banjir dan Longsor Bertambah Menjadi 186 OrangGedebage Banjir Lagi, Warga Pertanyakan Efektivitas Dua Kolam RetensiĀ
“Dulu air meresap ke sawah. Sekarang sawahnya hampir habis, diganti perumahan semua. Air tidak punya tempat lari, jadi langsung masuk ke jalan dan rumah,” ujarnya.
