Hari Kelima Pascabencana Wargaluyu: 762 Warga Masih Mengungsi, Trauma Tak Kunjung Reda

Hari Kelima Pascabencana, 762 Warga Wargaluyu Arjasari Masih Mengungsi dan Banyak yang Trauma
Warga Kampung Condong, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung masih mengungusi paska bencana longsor dan banjir, Selasa (9/12). Foto Agi/Jabar Ekspres/
0 Komentar

JABAR EKPSRES – Lima hari setelah longsor dan banjir bandang menerjang Kampung Condong, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, kehidupan ratusan warga belum kembali pulih.

Alih-alih pulang, 762 jiwa kini terpaksa bertahan di 17 titik pengungsian, sebagian masih terkejut dan trauma atas bencana yang merenggut rumah dan harta benda mereka. Bagi banyak warga, hujan kini bukan lagi pertanda kesuburan, melainkan alarm bahaya.

Koordinator Posko Utama, Dani Angga Setiawan (40), menyebutkan bahwa data pengungsi terus berubah seiring banyak warga yang berpindah tempat, terutama ke rumah kerabat.

Baca Juga:Berusaha Memahami Profesi Orang LainPersib Siap Kunci Tiket 16 Besar, Bojan Hodak Minta Waspada Bangkok United yang Tanpa Beban

“Yang tercatat di posko utama ada sekitar 415 orang. Total sementara 762 jiwa, tapi data masih simpang siur karena sebaran pengungsi ada di mana-mana,” ujar Dani.

Longsor dan banjir bandang yang terjadi hampir bersamaan melanda enam RW sekaligus: RW 1, 2, 4, 6, 8, dan 9, menjadikannya salah satu bencana terluas di Arjasari dalam beberapa tahun terakhir.

Kebutuhan logistik masih menjadi persoalan utama. Setiap hari, posko membutuhkan sedikitnya 50 dus air mineral dan 1 kuintal beras untuk memenuhi kebutuhan ratusan warga.

Dani menegaskan bantuan sebaiknya dikirimkan langsung ke posko utama di Kampung Cicarirang, RW 8, Desa Wargaluyu agar distribusi lebih merata.

“Silakan bantuan ke sini. Untuk sementara dapur umum terpusat di posko utama,” katanya.

Pengungsi Trauma, Rumah Rusak Berat

Trauma pascabencana begitu terasa di antara para pengungsi. Ujang Sunarya (53), warga Kampung Condong RW 9, mengaku masih terbayang-bayang suara tanah ambruk dan derasnya arus air dari arah gunung.

“Longsor terjadi jam 4 lewat. Saya langsung ke sini jam setengah enam. Ada imbauan dari pemerintah supaya ngungsi ke Cicarirang,” ujar Ujang.

Baca Juga:Dear Bobotoh! Ini Ungkapan Aki-Aki Gede Wadul Soal Masa Depan Dewangga di PersibBencana Datang Lebih Cepat, Jawa Barat Kian Rapuh oleh Kerusakan Alam

Rumahnya terkena material longsor. Meski kondisi di pengungsian jauh dari kenyamanan rumah, ia bersyukur bisa berkumpul bersama keluarga.

“Di rumah mah nyaman, di sini ya begitulah. Tapi alhamdulillah penyambutan warga bagus,” katanya.

“Makan aman, tiga kali sehari. Ada dapur umum,” tambahnya.

Harapan Ujang sederhana, yakni ia bisa pulang ke rumahnya sendiri bukan ke lokasi relokasi.

“Saya jualan sayur dari hasil kebun. Kalau harus pindah, ganti rugi dan rumah baru harus jelas,” katanya.

0 Komentar