Namun, kisah paling pilu datang dari Amas (60). Rumahnya luluh lantak dihantam longsor dan banjir bandang. Ia sendiri hampir kehilangan nyawa.
“Air sudah bergelombang, jadi kayak sungai besar. Longsor datang, rumah roboh, saya ketimpa material. Ada 10 menit saya ketimbun,” tuturnya.
“Saya lima menit lagi mungkin mati kalau enggak ada yang nolong. Alhamdulillah ada yang nyelametin,” katanya.
Baca Juga:Berusaha Memahami Profesi Orang LainPersib Siap Kunci Tiket 16 Besar, Bojan Hodak Minta Waspada Bangkok United yang Tanpa Beban
Tidak hanya rumah, Amas kehilangan domba, ayam, burung, motor, hingga mesin jahit yang merupakan sumber mata pencahariannya.
Lebih menyayat, empat anggota keluarganya, termasuk bayi dua bulan, ikut tertimbun sebelum berhasil diselamatkan. Kini, Amas bahkan tidak berani mendekati lokasi rumahnya yang hancur.
“Lihat hujan saja takut. Saya enggak berani naik ke rumah lagi. Cuma lihat dari bawah,” katanya.
Ia berharap pemerintah memberikan hunian baru karena rumah lama sudah tidak mungkin ditempati. “Saya sekarang tidak punya rumah buat pulang,” ujarnya.
