Kujangsari Tembus 5 Besar Sri Baduga 2025, Unggulkan Teknologi Sampah Jadi Energi

Kujangsari Tembus 5 Besar Sri Baduga 2025, Unggulkan Teknologi Sampah Jadi Energi
Kujangsari Tembus 5 Besar Sri Baduga 2025, Unggulkan Teknologi Sampah Jadi Energi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh Desa Kujangsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat.

Desa ini berhasil menembus lima besar dalam ajang bergengsi Anugerah Sri Baduga 2025 Tingkat Provinsi Jawa Barat, sebuah kompetisi yang mengukur kemajuan dan inovasi pemerintahan desa.

Keberhasilan ini didukung oleh persiapan matang dan sejumlah terobosan unggulan di bidang pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan.

Baca Juga:Sukses Menggelar Dikreg LIV Sesko TNI TA 2025, Begini kata Panglima Sinergi Baru Mayapada Hospital Bandung dan BRI Life: Fokus pada Nasabah dan Produktivitas Tim

Kepala Desa Kujangsari, Ahmad Mujahid, menyatakan bahwa pihaknya telah mempersiapkan segala aspek, baik administratif maupun teknis, untuk tampil maksimal dalam penilaian. “Kami telah mengerahkan segala upaya agar semuanya berjalan lancar dan berharap menjadi yang terbaik tingkat provinsi,” ujar Mujahid, Kamis (4/12/2025).

Persiapan tersebut tercermin dari capaian pembangunan infrastruktur, ekonomi, sosial budaya, serta profil desa yang terus meningkat, termasuk dalam pembayaran PBB.

Salah satu pilar penilaian yang menjadi andalan Desa Kujangsari adalah komitmennya dalam ketahanan pangan. Kelompok Lumbung Padi Sri Asih di Dusun Sindang Asih telah mencatatkan prestasi di tingkat provinsi dan kini bersiap untuk berlomba di kancah nasional. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah inovasi pengelolaan sampah yang dianggap sebagai karya nyata bagi masyarakat.

Di Dusun Kalapasabrang, sebuah rumah pengolahan sampah dilengkapi dengan teknologi mutakhir menjadi bukti nyata komitmen tersebut. “Ini menjadi salah satu program inovasi unggulan kami dalam lomba desa Sri Baduga di tingkat provinsi,” tegas Mujahid. Melalui teknologi pirolisis, sampah organik dan anorganik diolah menjadi energi alternatif seperti bensin dan solar, mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan sumber energi yang bermanfaat.

Tidak berhenti di situ, sampah plastik yang menggunung disulap menjadi bahan bangunan ramah lingkungan melalui teknologi ecoblock dan ecobrick. Inovasi ini menunjukkan pendekatan circular economy yang diterapkan desa, di mana sampah tidak lagi dilihat sebagai masalah, tetapi sebagai sumber daya bernilai ekonomis.

Inovasi lain yang tak kalah cerdas adalah pemanfaatan limbah kotoran ternak. Berkat kolaborasi dengan akademisi dari UGM, Aino Sukirno, warga di RT 3 RW 7 Dusun Kalapasebrang kini dapat menikmati biogas hasil fermentasi kotoran sapi. “Pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi biogas tersebut dilakukan melalui proses fermentasi dan sudah diuji coba sehingga aman digunakan,” jelasnya.

0 Komentar