Kapasitas biogas sebesar 12 kubik yang dihasilkan mampu mencukupi kebutuhan gas rumah tangga untuk 5-6 kepala keluarga hingga enam bulan. Api yang dihasilkan biru, stabil, dan tanpa bau, serta memberikan ketahanan energi bagi warga. “Warga tidak lagi khawatir kelangkaan gas karena sudah memiliki pengelolaan gas mandiri. Tinggal perluasan di level kelompok lain agar kemandirian energi terwujud, tidak bergantung penuh pada Pertamina,” harap Mujahid.
Dukungan untuk perjuangan Desa Kujangsari datang langsung dari Pemerintah Kota Banjar. Kehadiran Ketua Tim Penggerak PKK Kota Banjar, Hetti Puspitawati Sudarsono, dan Sekretaris Daerah, H. Soni Harison, beserta jajaran OPD dalam rapat evaluasi di Aula Desa Kujangsari menjadi sinyal kuat dukungan tersebut. “Kehadiran kami di sini adalah bentuk komitmen bahwa Kota Banjar berdiri bersama Desa Kujangsari,” ujar Hetti.
Sekda Soni Harison menegaskan bahwa pencapaian lima besar ini adalah buah kerja keras kolaboratif seluruh elemen desa. “Pemerintah Kota Banjar berharap keikutsertaan Desa Kujangsari tidak hanya membuahkan prestasi, tetapi juga menginspirasi desa-desa lainnya untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pengelolaan potensi lokal,” pungkasnya.
Baca Juga:Sukses Menggelar Dikreg LIV Sesko TNI TA 2025, Begini kata Panglima Sinergi Baru Mayapada Hospital Bandung dan BRI Life: Fokus pada Nasabah dan Produktivitas Tim
Di ajang penentuan nanti, Desa Kujangsari akan bersaing ketat dengan Desa Cibiru Wetan (Kabupaten Bandung Barat), Desa Pangauban (Kabupaten Garut), Desa Sukatani (Kabupaten Purwakarta), dan Desa Gunung Putri (Kabupaten Bogor). (CEP)
Caption: Akademisi dari UGM, Aino Sukirno, saat menjelaskan pengolahan proses penyulingan sampah menjadi energi BBM ke TP PKK Kota Banjar di Desa Kujangsari Kota Banjar belum lama ini. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
