Suara Generasi Muda Cimahi Menggema Usai Pentas Seni Lintas Agama

Suara Generasi Muda Cimahi Menggema Usai Pentas Seni Lintas Agama
Para Penari saat Tampil di Pentas Seni Lintas Agama dan Budaya dengan Membawakan Tarian Legong di Gereja HKBP Cimahi (Mong)
0 Komentar

Ia pun menegaskan bahwa perbedaan seharusnya menyatukan, bukan menjauhkan.

“Contohnya dengan diadakan pentas seni lintas agama ini. Pada acara ini, tanpa memandang apapun semua orang berbaur, tertawa yang secara tidak langsung menunjukkan toleransi dalam hal kecil sehari-hari,” tuturnya.

Menurut Juli, konflik antaragama dari masa ke masa mungkin tetap ada, namun kegiatan positif seperti ini menjadi penguat agar masyarakat tidak mudah terpecah.

“Ditambah dengan targetnya adalah anak-anak muda, dimulai dari yang sekitar atau bahkan jemaat HKBP Jalan Lurah itu sendiri,” imbuhnya.

Baca Juga:Cimahi Sambut Era Transportasi Baru, Pemkot Siap All Out Dukung Elektrifikasi KRL Padalarang–CicalengkaPLN Icon Plus Dukung Customer Gathering PLN UP3 Cimahi di ICON NEXT 2025

Hal serupa disampaikan Elyona Judith Carmenita (17), pelajar SMAN 2 Cimahi yang juga beragama Protestan. Ia merasakan Cimahi sebagai kota yang cukup rukun.

“Anak muda bisa mulai dari hal hal kecil contohnya saling menghormati perbedaan di lingkungan sehari hari, memberi perhatian ke temen temen yang berbeda agama saat mereka merayakan hari besar, juga ikut kegiatan kolaboratif lintas komunitas seperti yg kemarin diadakan,” katanya.

Ia berharap kerukunan yang sudah berjalan baik ini bisa menjadi fondasi kuat bagi Cimahi ke depan.

“Aku berharap bisa terus mengembangkan kegiatan yang bisa menyatukan antaragama supaya toleransi dan kerukunan makin kuat,” harapnya.

Dari seluruh cerita para remaja itu, salah satu yang paling berkesan datang dari Ni Putu Willy Dibyacitta Putri Murti (16), gadis asal Cipageran itu turut membawakan tarian tor-tor di hadapan Wali Kota Cimahi Ngatiyana dan para tamu undangan lainnya.

Baginya, panggung itu bukan sekadar tempat menari, tetapi ruang yang menyimpan banyak makna.

“Setidaknya ada 21 etnis yang tinggal di Cimahi. Jadi kegiatan kemarin itu sangat diperlukan untuk menjaga persatuan dan kesatuan walaupun berbeda-beda,” ujar siswi SMA Negeri 2 Cimahi itu.

Baca Juga:Ditengah Gempuran Musik Modern, Komunitas Sasora Cimahi Konsisten Lestarikan Seni Tradisi SundaAnugerah Kebudayaan Cimahi Soroti Urgensi Pelestarian Aksara Sunda Lewat Pendidikan 

Willy, yang merupakan pemeluk agama Hindu, menilai acara seperti ini penting untuk merawat toleransi dan mengajarkan semua pihak agar bisa menghargai seni budaya dari berbagai daerah. Ia juga menyimpan kesan mendalam dari suasana saling mendukung di acara tersebut.

“Contohnya, seperti Pak Wali Kota dan para tamu yang ikut berpartisipasi menari tor-tor. Aku juga berpesan agar tetap menjaga silaturahmi supaya kerukunan umat beragama tetap terjalin dan saling menghargai tentunya,” tutup Willy penuh harapan. (Mong)

0 Komentar