JABAR EKSPRES – Di saat gelombang musik modern kian mendominasi ruang dengar generasi muda Indonesia, seni tradisi Sunda perlahan meredup di tengah hingar-bingar budaya pop. Fenomena ini terlihat dari menurunnya minat anak muda terhadap musik tradisi yang dianggap kuno, padahal seni tersebut menyimpan identitas, sejarah, dan nilai luhur budaya leluhur.
Di berbagai daerah di Jawa Barat, para pelaku seni tradisi, kebanyakan yang sudah lanjut usia mulai kehilangan penerus. Banyak anak muda yang memilih mengikuti arus globalisasi ketimbang mempelajari kesenian leluhur.
Padahal, alat musik seperti karinding misalnya, dulunya bukan hanya instrumen hiburan, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat Sunda, digunakan untuk mengusir hama, memikat lawan jenis, hingga mengiringi upacara adat.
Baca Juga:PGN Siagakan Satgas Nataru 2025, Pastikan Pelayanan Terbaik Penyaluran Gas BumiAnugerah Kebudayaan Cimahi Soroti Urgensi Pelestarian Aksara Sunda Lewat Pendidikan
Namun, di tengah gerusan zaman, masih ada komunitas yang teguh menjaga akar budaya. Salah satunya Komunitas Sosora, berlokasi di Jalan Sentral, Kelurahan Cibabat, Cimahi Utara. Mereka terus menghidupkan seni Sunda melalui latihan rutin dan pembinaan generasi muda.
Salah satu anggotanya, Gani Abdul Rahman, menjadi sosok yang aktif mendorong pelestarian berbagai bentuk seni Sunda mulai dari musik, kebudayaan, hingga nilai-nilai karuhun.
“Musik yang kami lestarikan atau yang kami jaga sampai saat ini adalah musik Karinding, kemudian Tarawangsa, ada Beluk, dan kemudian musik tradisi lainnya, salah satunya Gamelan,” kata Gani saat diwawancarai Jabar Ekspres di sela malam anugerah kebudayaan Kota Cimahi 2025 di Alam Wisata Cimahi, Jumat (28/11/25) malam.
Pada malam anugerah tersebut, Komunitas Sosora membawakan Rajah, Rampak Karinding, dan monolog Sunda yang diiringi Tarawangsa di hadapan para pejabat Kota Cimahi.
Meski hidup di era modern, komunitas ini memilih tidak bertarung dengan musik kekinian, melainkan menyatu dan berkolaborasi. Saat ini, mereka bahkan menggandeng sejumlah band modern yang sedang tumbuh di Cimahi.
“Dan kami juga tidak merasa bahwa di era gempuran musik modern ini kami merasa tersingkir atau terasingkan, tapi kami mencoba bersatu. Nah, salah satu contohnya adalah kami berkolaborasi dengan Dawai and the Ethnicity,” ucapnya sambil membetulkan totopong yang ia kenakan.
