“Anggaplah masih ada keuntungan,” imbuhnya.
Wahyu menjelaskan bahwa kualitas BBM terbarukan (Petasol) yang dihasilkan memiliki cetane number antara 53-56, dengan rata-rata 54, sehingga setara dengan Pertadex.
“Harga jual kami adalah Rp 11.000 per liter, lebih murah dari Pertadex, namun dengan kualitas yang sama,” katanya.
Wahyu membandingkan harga BBM terbarukan dengan Biosolar subsidi, dan mengatakan bahwa jika subsidi dicabut, harga Biosolar akan menjadi sekitar Rp 11.800 per liter.
Baca Juga:Pemkot Cimahi Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan dengan Klinik Sore dan Persalinan 24 JamSuara Generasi Muda Cimahi Menggema Usai Pentas Seni Lintas Agama
“Jika dibandingkan dengan Biosolar tanpa subsidi, maka harga kami masih kompetitif,” imbuhnya.
Wahyu menekankan bahwa tujuan utama produksi BBM terbarukan adalah untuk mengurangi masalah sampah plastik di lingkungan.
“Kami ingin mengkonversi sampah plastik low value menjadi sesuatu yang bernilai dan dapat digunakan dengan baik,” katanya.
Wahyu berharap bahwa penggunaan BBM terbarukan dapat membantu mengurangi mikro plastik dan nano plastik di udara, serta meminimalkan dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan.
“Dengan menggunakan petasol, masyarakat dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi masalah sampah plastik,” imbuhnya.
Wahyu juga menyoroti risiko terbakarnya TPA khususnya saat musim kemarau karena ada timbunan plastik di sana.
“Kalau dikirim ke TPA, siapa tahu nanti juga terbakar pada saat waktunya kemarau,” katanya.
Baca Juga:Cimahi Sambut Era Transportasi Baru, Pemkot Siap All Out Dukung Elektrifikasi KRL Padalarang–CicalengkaDi Tengah Perbedaan, Pemkot Cimahi Gaungkan Persatuan Lewat Pentas Seni Lintas Agama
Lebih lanjut, Wahyu melihat peluang besar dalam pengembangan usaha atau lapangan kerja baru melalui program pengolahan sampah plastik menjadi BBM.
“Kenapa tidak ini menjadi salah satu bisnis non wajib yang digarap oleh koperasi merah putih, karena memang potensinya ada disana,” katanya.
Wahyu menjelaskan, koperasi meraerah putih dapat menjadi plasma yang menghasilkan minyak bakar dari sampah plastik, kemudian pada induk diproses menjadi petasol, lalu dikembalikan kepada mereka untuk dijual
“Minyak bakarnya kami kumpulkan untuk diproses lanjut menjadi petasol, kemudian dikembalikan kepada mereka sudah dalam bentuk petasol yang siap edar,” imbuhnya.
Ia juga menyarankan opsi agar koperasi merah putih cukup menyerahkan minyak bakar kepada induk mereka dan mendapatkan kompensasi yang menguntungkan
“Tapi mereka jelas sudah untung dari memproduksi dari minyak bakar yang akan dijadikan Petasol,” bebernya.
