Sehingga, tidak ada lagi sampah plastik low value yang dibakar, yang dibuang ke badan air, atau digeser ke Tempat Pemroresan Akhir (TPA). Maka, semua sampah plastik low value dapat berhenti di Cimahi.
“Dengan cara itu, lingkungan jadi lebih baik. Kemudian telah dikonversi menjadi sumber daya ada potensi ekonomi senilai Rp 220 juta per hari dari sampah plastik low value ini saja,” bebernya.
Wahyu menegaskan dimungkinkan akan adanya man power yang cukup banyak untuk menjalani transaksi harian sebesar itu per-hari nya.
Baca Juga:Pemkot Cimahi Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan dengan Klinik Sore dan Persalinan 24 JamSuara Generasi Muda Cimahi Menggema Usai Pentas Seni Lintas Agama
Sepanjang sampah plastik low value masih diproduksi, kata dia, hal ini akan berkelanjutan. Ia juga menegaskan, tidak menutup kemungkinan ada potensi-potensi lainnya dari sampah plastik low value yang ada di sekitar Cimahi, seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Bandung Barat bisa di olah sekalian di Cimahi.
“Jadi potensinya tidak sebatas Rp 220 juta perhari, tapi bisa lebih besar dari pada itu” kata Wahyu.
Jika demikian, kata Wahyu, Re-purpose (R7) sebagai bagian dari sirkular ekonomi (kita kenal dari R0 sampai R9) bisa dilakukan.
“Dari semula yang jadi masalah, memiliki dampak samping yang kita tidak tahu berapa besar nilai kerugiannya, bisa nihil dampak negatif dan memiliki potensi setidaknya Rp 220 juta perhari,” bebernya.
Wahyu menuturkan, hal ini bila dilihat dari sisi ekonomi baik, sirkular ekonominya jelas dan dampak lingkungan juga akan sangat signifikan.
Wahyu menjelaskan bahwa plastik yang berasal dari minyak bumi dapat dikembalikan ke produk asalnya.
“Sekarang dari plastik yang juga bagian dari minyak bumi, diubah lagi menjadi BBM,” katanya.
Baca Juga:Cimahi Sambut Era Transportasi Baru, Pemkot Siap All Out Dukung Elektrifikasi KRL Padalarang–CicalengkaDi Tengah Perbedaan, Pemkot Cimahi Gaungkan Persatuan Lewat Pentas Seni Lintas Agama
Wahyu mengatakan bahwa harga pokok produksi menjadi faktor penentu efisiensi BBM terbarukan yang dihasilkan. Menuurutnya, semakin banyak kuantitas produksi, maka akan semakin efisien biaya per liternya
“Saat ini, dengan kapasitas produksi 100 kilogram per batch prosesnya, harga produksi BBM terbarukan yang dihasilkan adalah sekitar Rp 7.000 per liter, dengan harga jual sekitar Rp 11.000 per liter,” katanya.
Wahyu menambahkan bahwa dengan harga jual tersebut, masih ada keuntungan yang diperoleh.
