Menurut Gani, kolaborasi itu bukan sekadar upaya bertahan, tetapi cara mereka memperkenalkan seni Sunda dengan kemasan yang lebih relevan.
“Jadi kita kolaborasikan musik tradisi dengan modern, yaitu Komunitas Sosora featuring Dawai and the Ethnicity yang memang sangat harmonisasi sekali untuk dipadukan dengan musik modern,” tuturnya bersemangat.
Gani juga memberi pesan tegas kepada anak muda yang menganggap seni tradisi sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.
Baca Juga:PGN Siagakan Satgas Nataru 2025, Pastikan Pelayanan Terbaik Penyaluran Gas BumiAnugerah Kebudayaan Cimahi Soroti Urgensi Pelestarian Aksara Sunda Lewat Pendidikan
“Memang ini menjadi ciri khas pembeda kita dengan bangsa-bangsa lain. Di mana di Indonesia ini sangat beragam sekali musik tradisi, tarian tradisi, kemudian adat-istiadat, dan situs. Itu menjadi ciri khas yang sangat kaya dan memang menjadi salah satu peninggalan yang sangat berharga bagi kita,” bebernya.
Ia menegaskan, bagi mereka, musik tradisi adalah identitas penting yang wajib dijaga untuk masa depan.
“Dan juga regenerasi harus tetap bisa menjaga musik tradisi ini,” kata pria berusia 30 tahun itu.
Gani bercerita, kecintaannya pada seni Sunda tumbuh sejak kecil dari didikan orang tua dan kakek-neneknya yang merupakan pelaku musik tradisi. Instrumen pertama yang ia pelajari adalah Degung saat duduk di bangku kelas 4 SD.
“Kelas 4 itu kami sudah diperkenalkan (musik tradisi). Nah, untuk yang pertama dipelajari instrumen kami adalah mulai dari Degung. Akhirnya kami berkembang, di tahun 2009 itu ke musik Karinding, karena memang banyak sekali yang kami pelajari, tidak hanya satu musik tradisi,” ujarnya sambil memegang karinding di tangannya.
Rata-rata anggota komunitas Sosora, kata Gani, memang berasal dari keluarga pelaku seni tradisi.
Melihat derasnya budaya Barat yang masuk, komunitas ini tetap berusaha menjaga identitas mereka dengan memakai iket dan pangsi dalam setiap penampilan.
Baca Juga:Marshall Ekspansi ke Indonesia, Toko Pertama Resmi Hadir di BandungJelang Nataru 590 Ribu Ton Beras di Jabar Aman!
“Itu masih kami lestarikan untuk dari segi apapun namanya, di era modern ini,” tegasnya.
Gani mengakui bahwa para pelaku seni tradisi saat ini juga harus bisa membaca perubahan zaman.
“Kami mencoba mengikuti, beradaptasi dengan mereka yang memiliki selera musik modern,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah bisa memberikan ruang lebih luas bagi pelaku seni tradisi agar dapat berkarya dan berbagi ke generasi muda, bukan hanya di acara tertentu.
