JABAR EKSPRES – Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah Osa (55) saat menerima kunci rumah barunya, Rabu pagi lalu. Di Kampung Neglasari, Desa Langonsari, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, perempuan paruh baya itu tak henti-hentinya menyeka air mata haru.
Kunci yang digenggamnya itu bukan sekadar simbol biasa. Kunci itu menandai berakhirnya penderitaan keluarga Osa yang sebelumnya tinggal di rumah bocor dan selalu tergenang air setiap hujan. Kini, hunian sederhana itu telah disulap menjadi tempat tinggal yang kokoh dan nyaman untuk dua keluarga dengan delapan anggota.
Penyerahan kunci dilakukan langsung oleh Kapolsek Pameungpeuk AKP Asep Dedi, dan turut dihadiri Camat Pameungpeuk Agus Hindar Ruswanto, Danramil Lettu Suranto, Kepala Desa Langonsari E. Witarsa, serta tokoh masyarakat dan warga sekitar.
Baca Juga:Ogah Imbang, Persib Maunya Menang!Jung Sang Penyelamat! Persib Menang Dramatis 10 Pemain, Dewa United Dipaksa Pulang Tanpa Gol
Meski acara terlihat sederhana, kisah di baliknya penuh kepedulian. Rumah Osa sebenarnya tidak masuk dalam program bantuan pemerintah, meski kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Setelah menerima laporan dari pihak desa, Kapolsek bersama tim langsung meninjau lokasi dan memutuskan untuk segera melakukan perbaikan.
“Kami datang dan melihat sendiri kondisi rumah Ma Osa yang sangat tidak layak. Dua hari kemudian kami langsung melakukan perbaikan,” ujar Kapolsek, Rabu (26/11/2025).
Perbaikan rumah Osa menjadi rumah ke-14 yang rampung dibangun melalui program sosial Polsek Pameungpeuk bertajuk “Kencleng Selasa–Jumat”.
Program yang awalnya hanya menyediakan bantuan sembako ini kemudian dialihkan menjadi bedah rumah karena dampaknya yang lebih nyata bagi masyarakat.
Selain dana internal anggota Polsek, program ini juga mendapat dukungan dari masyarakat sekitar yang peduli dengan kondisi warga.
“Kami juga dibantu oleh masyarakat yang peduli terhadap kondisi warga sekitar,” tambah Asep.
Bagi Osa, rumah lamanya adalah sumber kesulitan yang tak kunjung usai. Atap bocor, lantai tergenang air, dan dinding rapuh membuat setiap hujan menjadi momok menakutkan. Keluarganya harus berjaga memindahkan barang-barang, bahkan tidur dalam kondisi lembab.
Baca Juga:Eiger Adventure Land Jadi Mitra Menko PMK–BNPB Menghijaukan PuncakKolaborasi Humas Jadi Pondasi Kepercayaan Publik, Pesan Tegas Menkomdigi di AMH 2025
“Kalau hujan, air masuk ke dalam rumah sampai banjir,” kenang Kapolsek mengenai kondisi rumah sebelum dibangun ulang.
