JABAR EKSPRES – Upaya pengalihan lahan kebun teh menjadi lahan pertanian kembali terjadi di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Serikat Pekerja Perkebunan Teh Korwil Cinyiruan dan Kertasari pun menggelar unjuk rasa di Pabrik Teh Malabar, menuntut tindakan tegas dari PTPN untuk menghentikan penyerobotan lahan dan melindungi para pemetik teh.
Camat Pangalengan Vena Andriawan membenarkan adanya perusakan dan okupasi kebun teh oleh oknum yang ingin memperluas usaha pertaniannya.
Baca Juga:Tak Nyalakan Sein, Berujung Maut: Akademisi Bedah Faktor Psikologis di Balik Kekerasan RemajaHari Guru 2025, Habib Syarief : Jadi Momentum Revisi RUU Sisdiknas
“Kembali terjadi okupasi kebun teh. Praktik itu menyebabkan lahan garapan pemetik teh kian berkurang. Pemetik teh menuntut perkebunan (PTPN) memberikan poteksi supaya bisa bekerja dengan aman,” kata Vena, Rabu (26/11/2025).
Ia menegaskan, okupasi tersebut membuat para pemetik kehilangan sumber penghasilan karena tidak lagi memiliki lahan untuk dipetik.
Para pemetik, melalui serikat pekerja, menuntut dua hal utama yakni proteksi dari pihak perkebunan agar mereka bisa bekerja dengan aman, serta peningkatan kesejahteraan.
“Selain itu, pemetik teh menuntut peningkatan kesejahteraan, juga meminta pihak perkebunan untuk mengambil upaya tegas untuk menghentikan praktik okupasi dari pihak tertentu atas kebun teh,” tambahnya.
Pihaknya mengaku, terus berkoordinasi dengan PTPN I Regional 2 untuk menanggulangi kondisi tersebut. Sepengetahuannya, PTPN kekurangan personel untuk mengontrol dan mencegah pengalihan kebun teh menjadi lahan pertanian.
“Oknum melakukan perbuatan diam-diam, di tengah malam. Petugas PTPN mengontrol di blok A, tapi blok lain dijarah,” katanya.
Ia memahami kendala PTPN yang mengaku kekurangan personel untuk mengamankan total area seluas 6.000 hektare.
Baca Juga:Seminar Nasional dan Forum Diskusi Dies Natalis Fakultas Kedokteran UNPAD, Dudung: Semangat Dokter Muda HarusHari Guru 2025, Akademisi Psikologi: Dedikasi Guru Adalah Pondasi Kemajuan Bangsa
Dari catatannya, sudah sekitar 60 hektare kebun teh terokupasi dan jumlahnya terus bertambah. Lokasinya pun tersebar di beberapa titik, tidak hanya di Blok Pahlawan.
“Ini sudah dua kali terjadi,” kata Vena.
Forkopimcam bersama PTPN sebenarnya telah mencoba memulihkan lahan dengan kembali menanami bibit teh. Namun, tanaman itu kembali dirusak oleh pihak yang sama.
Vena mengaku sudah melaporkan kondisi ini kepada Regional Head PTPN untuk meminta langkah tegas.
Ia pun memastikan kecamatan akan terus mendorong pelestarian lingkungan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencegah kerusakan kebun teh yang menjadi sumber penghidupan ribuan warga Pangalengan.
