Mereka berpendapat bahwa proses penggantian selisih harga harus dapat segera diselesaikan. Hal ini bukan hanya untuk menyelamatkan usaha mereka, tetapi juga agar distribusi pupuk bersubsidi ke petani tetap berjalan lancar tanpa hambatan, terutama ketika musim tanam berikutnya segera tiba. Keterlambatan distribusi dikhawatirkan akan berdampak pada produksi pertanian.
Kekhawatiran terbesar mereka adalah modal usaha yang tidak kunjung kembali, yang pada akhirnya dapat mengganggu suplai pupuk secara keseluruhan tepat di momen yang krusial, yaitu menjelang musim tanam.
Menanggapi kerisauan dan keluhan yang dilontarkan para pengecer, perwakilan PT Pupuk Indonesia untuk wilayah Ciamis, Banjar, dan Pangandaran, M. Trimarwanto, menyampaikan penjelasan. Ia menyatakan bahwa proses verifikasi dan penghitungan selisih harga untuk kompensasi masih terus berlangsung.
Baca Juga:Belum Ada Penambahan Kuota Pupuk Subsidi di Jabar Meski HET TurunHarga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Petani Banjar Sorak Sorai
“Saat ini lagi dilakukan proses perhitungan yang mendetail. Untuk data stok yang selisihnya besar harus dilakukan pengecekan ulang terlebih dahulu untuk memastikan keakuratannya. Namun, perkiraan umum stok yang terkena dampak untuk setiap kios tidak lebih dari 10 ton, termasuk untuk jenis pupuk Urea dan NPK. Yang pasti, selisih ini masih dalam proses perhitungan dan pasti akan dibayarkan,” ucap Trimarwanto. (CEP)
